Dokter Kandungan Jepara - Klinik Aqilla Sehat Spesialis Kebidanan dan Kandungan Di Jepara
Kesehatan Wanita

Kanker Ovarium: Gejala Awal yang Sering Terlewat

Kanker Ovarium

Gejala awal kanker ovarium sering terlewat karena mirip keluhan sehari-hari. Contohnya perut kembung yang menetap, nyeri di perut bawah atau panggul, cepat merasa kenyang, dan sering atau mendadak ingin buang air kecil. Yang membedakannya dari gangguan pencernaan biasa adalah polanya. Keluhan ini baru muncul, terjadi hampir setiap hari, dan berlangsung lebih dari beberapa minggu. Jika Anda mengalami pola seperti itu, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter kandungan. Keluhan tersebut belum tentu kanker, tetapi pemeriksaan lebih awal membuka peluang penanganan yang lebih baik.

Mengenal Kanker Ovarium

Ovarium atau indung telur adalah sepasang organ kecil di kiri dan kanan rahim. Fungsinya menghasilkan sel telur serta hormon estrogen dan progesteron. Kanker ovarium terjadi ketika sel-sel di ovarium, saluran tuba, atau lapisan selaput perut di sekitarnya tumbuh tidak terkendali. Penelitian menunjukkan sebagian kanker ovarium sebenarnya bermula dari saluran tuba falopi.

Kanker ovarium dijuluki “silent killer” atau pembunuh diam-diam. Alasannya, ovarium terletak jauh di dalam rongga panggul sehingga tumor bisa tumbuh cukup besar sebelum menimbulkan keluhan yang jelas. Karena itu, banyak kasus baru ditemukan pada stadium lanjut. Kabar baiknya, tubuh sering kali sudah memberi sinyal lebih awal. Kita hanya perlu lebih peka mengenalinya.

Gejala Awal yang Sering Terlewat

Banyak perempuan mengira keluhan berikut sekadar masuk angin, maag, atau gejala menjelang haid. Perhatikan jika keluhannya terasa baru, terus-menerus, dan tidak membaik.

  • Perut kembung atau begah yang menetap. Rasa penuh ini tidak hilang setelah buang angin atau buang air besar, dan terjadi hampir setiap hari.
  • Perut tampak membesar. Lingkar perut bertambah atau celana terasa sesak, padahal berat badan tidak naik atau justru turun.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut bawah dan panggul. Nyerinya bisa tumpul dan hilang-timbul, tetapi berulang.
  • Cepat kenyang atau sulit makan. Baru makan sedikit sudah terasa penuh, atau nafsu makan menurun.
  • Perubahan kebiasaan buang air kecil. Lebih sering berkemih atau terasa mendesak ingin buang air kecil tanpa tanda infeksi saluran kemih.

Selain empat keluhan utama di atas, beberapa gejala lain juga bisa muncul:

  • Mudah lelah tanpa sebab yang jelas.
  • Sembelit atau perubahan pola buang air besar.
  • Nyeri punggung bawah.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Perubahan siklus haid, atau perdarahan dari vagina setelah menopause.
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja.

Satu keluhan yang muncul sesekali umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Yang perlu diwaspadai adalah keluhan yang menetap, makin sering, atau tidak membaik setelah ditangani seperti gangguan pencernaan biasa.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti kanker ovarium belum sepenuhnya diketahui. Namun, para ahli telah mengenali sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya:

  • Usia. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah menopause. Meski begitu, kanker ovarium tetap dapat terjadi pada usia lebih muda.
  • Riwayat keluarga. Risiko lebih tinggi jika ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan pernah menderita kanker ovarium, kanker payudara, atau kanker usus besar.
  • Faktor genetik. Perubahan pada gen BRCA1 dan BRCA2, serta kondisi bawaan bernama sindrom Lynch, berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi.
  • Endometriosis. Kondisi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker ovarium.
  • Belum pernah hamil atau mengalami kesulitan memiliki keturunan.
  • Terapi hormon setelah menopause dalam jangka panjang.
  • Kelebihan berat badan dan obesitas.
  • Merokok, yang dikaitkan dengan jenis kanker ovarium tertentu.

Beberapa faktor justru dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah. Contohnya pernah hamil, menyusui, dan penggunaan kontrasepsi hormonal tertentu dalam jangka waktu lama. Faktor-faktor ini sebaiknya dibicarakan dengan dokter sesuai kondisi Anda masing-masing.

Perlu diingat, memiliki faktor risiko tidak berarti seseorang pasti terkena kanker ovarium. Sebaliknya, sebagian penderita tidak memiliki faktor risiko yang jelas.

Mengapa Gejalanya Mudah Terlewat?

Ada beberapa alasan kanker ovarium sering terlambat dikenali:

  • Gejalanya mirip gangguan umum seperti maag, sindrom iritasi usus, infeksi saluran kemih, atau keluhan menjelang haid.
  • Banyak perempuan menunda periksa karena sibuk mengurus keluarga, merasa malu, atau menganggap keluhannya sepele.
  • Hingga saat ini belum ada tes skrining rutin yang terbukti efektif mendeteksi kanker ovarium pada perempuan dengan risiko rata-rata.
  • Pemeriksaan pap smear tidak dirancang untuk mendeteksi kanker ovarium. Pap smear ditujukan untuk deteksi dini kanker leher rahim (serviks).

Karena belum ada skrining rutin, mengenali gejala dan segera memeriksakan diri menjadi langkah paling penting.

Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Catat keluhan Anda

Buat catatan sederhana selama dua hingga tiga minggu. Tuliskan keluhan apa yang muncul, seberapa sering, kapan terjadi, dan apakah ada perbaikan. Catatan ini sangat membantu dokter menilai kondisi Anda.

2. Kenali riwayat kesehatan keluarga

Tanyakan kepada keluarga apakah ada kerabat perempuan yang pernah menderita kanker ovarium, payudara, rahim, atau usus besar. Jika ada, sampaikan kepada dokter. Dokter dapat mempertimbangkan konseling atau pemeriksaan genetik bila diperlukan.

3. Jangan mengobati sendiri terlalu lama

Wajar jika Anda mencoba mengatasi kembung atau nyeri ringan dengan mengatur pola makan. Namun, jika keluhan tidak membaik dalam beberapa minggu, jangan terus menunda pemeriksaan.

4. Jalani pemeriksaan yang dianjurkan dokter

Untuk mengevaluasi keluhan, dokter kandungan dapat melakukan:

  • Wawancara medis dan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan panggul.
  • USG transvaginal atau USG perut untuk melihat ukuran dan bentuk ovarium.
  • Pemeriksaan darah, misalnya penanda tumor CA-125. Kadarnya bisa meningkat pada kanker ovarium, tetapi juga pada kondisi jinak seperti endometriosis, mioma, atau saat haid. Karena itu, hasilnya selalu ditafsirkan bersama pemeriksaan lain.
  • Pemeriksaan pencitraan lanjutan seperti CT scan atau MRI bila diperlukan.

Diagnosis pasti kanker ovarium ditegakkan melalui pemeriksaan jaringan (histopatologi), yang umumnya diambil melalui tindakan operasi. Penanganan selanjutnya disesuaikan dengan jenis dan stadium kanker. Pilihannya dapat berupa operasi, kemoterapi, atau terapi lain sesuai pertimbangan tim dokter.

5. Jaga gaya hidup sehat

Pertahankan berat badan ideal, rutin bergerak, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan hindari rokok. Langkah ini baik untuk kesehatan secara keseluruhan dan dapat membantu menurunkan berbagai risiko penyakit.

Kapan Harus ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter kandungan jika Anda mengalami:

  • Perut kembung, nyeri panggul, cepat kenyang, atau sering buang air kecil yang baru muncul dan terjadi hampir setiap hari lebih dari dua hingga tiga minggu.
  • Perut membesar dengan cepat atau terasa ada benjolan di perut bawah.
  • Perdarahan dari vagina setelah menopause.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas disertai mudah lelah.
  • Keluhan di atas disertai riwayat kanker ovarium atau payudara dalam keluarga.

Segera cari pertolongan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika muncul:

  • Nyeri perut atau panggul yang sangat hebat dan mendadak, terutama bila disertai mual, muntah, atau demam.
  • Perut sangat tegang dan membesar disertai sesak napas.
  • Muntah terus-menerus atau tidak bisa buang angin dan buang air besar.
  • Pusing berat, lemas, atau hampir pingsan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah perut kembung pasti tanda kanker ovarium?

Tidak. Sebagian besar perut kembung disebabkan oleh gangguan pencernaan, pola makan, atau perubahan hormon menjelang haid. Kembung perlu diperiksakan bila baru muncul, terjadi hampir setiap hari, berlangsung lebih dari beberapa minggu, atau disertai gejala lain seperti nyeri panggul dan cepat kenyang.

Apakah kista ovarium bisa berubah menjadi kanker?

Sebagian besar kista ovarium bersifat jinak, terutama pada perempuan usia subur, dan banyak yang menghilang dengan sendirinya. Namun, kista dengan ciri tertentu pada USG, misalnya bagian padat atau bentuk yang tidak beraturan, perlu dievaluasi lebih lanjut. Dokter akan menentukan apakah kista cukup dipantau atau memerlukan tindakan.

Apakah pap smear bisa mendeteksi kanker ovarium?

Tidak. Pap smear berfungsi mendeteksi perubahan sel di leher rahim untuk mencegah kanker serviks. Untuk menilai kondisi ovarium, dokter biasanya menggunakan pemeriksaan panggul, USG, dan pemeriksaan darah bila ada indikasi.

Apakah perempuan muda bisa terkena kanker ovarium?

Bisa, meskipun lebih jarang dibandingkan pada perempuan yang lebih tua. Ada jenis kanker ovarium tertentu yang justru lebih sering ditemukan pada usia muda. Karena itu, keluhan yang menetap tetap perlu diperiksakan, berapa pun usia Anda.

Tubuh Anda sering memberi tanda lebih awal daripada yang disadari. Jangan ragu atau malu untuk memeriksakan keluhan yang terasa tidak biasa, terutama bila berlangsung terus-menerus. Konsultasikan dengan dokter spesialis kandungan agar penyebab keluhan dap


Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.

Butuh arahan lebih lanjut?

Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Reservasi via WhatsApp