Dokter Kandungan Jepara - Klinik Aqilla Sehat Spesialis Kebidanan dan Kandungan Di Jepara
Kesehatan Wanita

Pap Smear dan Tes IVA: Kapan Perlu Dilakukan

Pap Smear dan Tes IVA

Pap smear dan tes IVA sebaiknya mulai dilakukan oleh perempuan yang sudah pernah berhubungan seksual, umumnya sejak usia 21–30 tahun, lalu diulang secara berkala meskipun tidak ada keluhan. Panduan WHO menganjurkan skrining dimulai pada usia 30 tahun, sedangkan beberapa panduan lain seperti ACOG menganjurkan mulai usia 21 tahun. Program pemerintah di Indonesia umumnya menyasar perempuan usia 30–50 tahun. Intinya, kedua pemeriksaan ini bertujuan menemukan perubahan sel di leher rahim (serviks) sejak dini, sebelum berkembang menjadi kanker serviks.

Mengapa Skrining Leher Rahim Penting?

Kanker serviks termasuk salah satu kanker yang paling sering dialami perempuan di Indonesia. Kabar baiknya, kanker ini termasuk yang paling bisa dicegah. Prosesnya biasanya berjalan lambat, bisa bertahun-tahun, dimulai dari perubahan sel yang disebut lesi prakanker. Pada tahap ini perempuan umumnya tidak merasakan gejala apa pun. Karena itulah pemeriksaan rutin sangat penting: perubahan sel bisa ditemukan dan ditangani sebelum menjadi kanker.

Penyebab Utama: Infeksi HPV

Hampir semua kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi, terutama tipe 16 dan 18. HPV menular melalui kontak kulit di area kelamin, termasuk hubungan seksual. Infeksi HPV sangat umum dan sebagian besar hilang sendiri karena dilawan oleh sistem kekebalan tubuh. Masalah muncul bila infeksi menetap dalam waktu lama, sehingga memicu perubahan sel di leher rahim.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko infeksi HPV yang menetap, antara lain:

  • Merokok
  • Daya tahan tubuh yang lemah, misalnya pada orang dengan HIV
  • Mulai berhubungan seksual di usia sangat muda
  • Berganti-ganti pasangan seksual, atau pasangan yang memiliki banyak pasangan
  • Riwayat infeksi menular seksual lainnya
  • Tidak pernah atau jarang menjalani skrining

Apa Bedanya Pap Smear dan Tes IVA?

Keduanya sama-sama pemeriksaan skrining kanker serviks, tetapi cara kerjanya berbeda.

Pap Smear

Pada pap smear, tenaga kesehatan memasang alat bernama spekulum ke dalam vagina agar leher rahim terlihat, lalu mengambil sedikit sel dari permukaan serviks menggunakan sikat kecil atau spatula. Sampel ini dikirim ke laboratorium untuk diperiksa di bawah mikroskop. Hasilnya biasanya keluar dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Pap smear dapat mendeteksi sel yang tidak normal secara cukup rinci.

Tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Tes IVA dilakukan dengan mengoleskan cairan asam asetat (seperti cuka encer) pada leher rahim. Setelah sekitar satu menit, petugas mengamati apakah ada area yang berubah menjadi putih. Area putih tersebut dapat menandakan adanya sel yang tidak normal. Kelebihan tes IVA adalah hasilnya bisa langsung diketahui saat itu juga, biayanya relatif terjangkau, dan tersedia luas di puskesmas. Pada kondisi tertentu, bila ditemukan kelainan, penanganan awal bisa langsung dilakukan.

Tes DNA HPV

Selain kedua pemeriksaan di atas, kini tersedia juga tes DNA HPV yang mendeteksi keberadaan virus HPV risiko tinggi. WHO saat ini menganjurkan tes DNA HPV sebagai metode skrining utama bila tersedia. Dokter dapat membantu memilih metode yang paling sesuai dengan usia, riwayat kesehatan, dan fasilitas yang ada.

Kapan dan Seberapa Sering Perlu Dilakukan?

Jadwal skrining dapat sedikit berbeda antarpanduan, tetapi secara umum gambarannya sebagai berikut:

  • Usia 21–29 tahun: menurut panduan ACOG, pap smear dapat dilakukan setiap 3 tahun bila hasilnya normal.
  • Usia 30–65 tahun: pilihan yang umum adalah tes DNA HPV setiap 5 tahun, kombinasi pap smear dan tes HPV setiap 5 tahun, atau pap smear saja setiap 3 tahun. Bila menggunakan tes IVA, pemeriksaan umumnya diulang setiap 3 tahun atau sesuai anjuran petugas kesehatan.
  • Di atas 65 tahun: skrining umumnya boleh dihentikan bila hasil pemeriksaan sebelumnya berturut-turut normal dan tidak ada riwayat lesi prakanker. Keputusan ini sebaiknya dibicarakan dengan dokter.
  • Perempuan dengan HIV atau daya tahan tubuh lemah: skrining biasanya dianjurkan lebih awal dan lebih sering.

Perlu diingat, perempuan yang sudah mendapat vaksin HPV tetap perlu menjalani skrining. Vaksin sangat membantu mencegah infeksi tipe HPV tertentu, tetapi tidak melindungi dari semua tipe yang dapat menyebabkan kanker.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Persiapan dan Pencegahan?

Persiapan Sebelum Pemeriksaan

Agar hasil pemeriksaan lebih akurat, beberapa hal berikut sebaiknya diperhatikan:

  • Jadwalkan pemeriksaan di luar masa menstruasi, idealnya sekitar 10–20 hari setelah hari pertama haid.
  • Hindari hubungan seksual sekitar 1–2 hari sebelum pemeriksaan.
  • Jangan membilas bagian dalam vagina (douching) atau memakai sabun pembersih vagina sebelum pemeriksaan.
  • Hindari penggunaan obat, krim, atau sabun yang dimasukkan ke vagina beberapa hari sebelumnya, kecuali atas anjuran dokter.
  • Sampaikan kepada petugas bila Anda sedang hamil, baru melahirkan, atau memiliki keluhan tertentu.

Pemeriksaan biasanya berlangsung singkat. Sebagian perempuan merasa sedikit tidak nyaman atau tertekan saat spekulum dipasang, tetapi umumnya tidak menimbulkan nyeri berarti. Menarik napas perlahan dan membuat otot tetap rileks dapat membantu.

Langkah Pencegahan Sehari-hari

  • Vaksinasi HPV: paling efektif diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual, tetapi perempuan dewasa juga dapat berdiskusi dengan dokter mengenai manfaatnya.
  • Skrining teratur: ikuti jadwal yang dianjurkan meskipun merasa sehat.
  • Berhenti merokok: rokok melemahkan kemampuan tubuh melawan HPV.
  • Perilaku seksual yang aman: setia pada pasangan dan menggunakan kondom dapat menurunkan risiko penularan.
  • Menjaga daya tahan tubuh: makan bergizi seimbang, cukup istirahat, dan rutin bergerak.

Bila Hasilnya Tidak Normal

Hasil pap smear atau IVA yang tidak normal bukan berarti Anda menderita kanker. Sering kali hasil tersebut menunjukkan peradangan, infeksi, atau perubahan sel ringan yang bisa kembali normal. Dokter mungkin menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti tes HPV, kolposkopi (pemeriksaan leher rahim dengan alat pembesar), atau pengambilan sampel jaringan (biopsi). Bila ditemukan lesi prakanker, tersedia beberapa pilihan penanganan untuk mengangkat atau menghancurkan sel abnormal tersebut. Yang terpenting adalah tidak menunda kontrol sesuai jadwal.

Kapan Harus ke Dokter

Jangan menunggu jadwal skrining berikutnya bila Anda mengalami tanda-tanda berikut. Segera periksakan diri ke dokter kandungan bila muncul:

  • Perdarahan setelah berhubungan seksual
  • Perdarahan atau flek di luar jadwal menstruasi
  • Perdarahan dari vagina setelah menopause
  • Keputihan yang berbau tidak sedap, bercampur darah, atau jumlahnya sangat banyak
  • Nyeri saat berhubungan seksual yang menetap
  • Nyeri panggul atau perut bawah yang tidak kunjung hilang
  • Haid yang jauh lebih banyak atau lebih lama dari biasanya

Keluhan-keluhan ini tidak selalu berarti kanker, karena banyak kondisi lain yang bisa menjadi penyebabnya. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah perempuan yang belum menikah perlu pap smear atau IVA?

Skrining dianjurkan bagi perempuan yang sudah pernah berhubungan seksual, terlepas dari status pernikahan. Bagi yang belum pernah berhubungan seksual, risiko infeksi HPV jauh lebih rendah. Bila ada keluhan, dokter akan menentukan jenis pemeriksaan yang paling sesuai.

Apakah pap smear boleh dilakukan saat hamil?

Ya, pap smear umumnya aman dilakukan selama kehamilan dan tidak membahayakan janin. Sebaiknya sampaikan kehamilan Anda kepada tenaga kesehatan agar pemeriksaan dilakukan dengan cara yang sesuai. Kadang dapat muncul sedikit flek setelahnya, tetapi bila perdarahan banyak, segera hubungi dokter.

Mana yang lebih baik, pap smear atau tes IVA?

Keduanya bermanfaat dan sama-sama lebih baik daripada tidak melakukan skrining sama sekali. Tes IVA praktis dan hasilnya langsung diketahui, sedangkan pap smear memberikan gambaran sel yang lebih rinci melalui laboratorium. Pilihan terbaik bergantung pada usia, riwayat kesehatan, dan fasilitas yang tersedia, sehingga sebaiknya didiskusikan dengan dokter.

Apakah sudah divaksin HPV berarti tidak perlu skrining lagi?

Tetap perlu. Vaksin HPV melindungi dari tipe-tipe HPV tertentu yang paling sering menyebabkan kanker, tetapi tidak semua tipe. Kombinasi vaksinasi dan skrining rutin memberikan perlindungan yang paling optimal.

Skrining leher rahim adalah langkah sederhana namun sangat berarti untuk menjaga kesehatan Anda dalam jangka panjang. Bila Anda belum pernah menjalani pap smear atau tes IVA, ragu kapan jadwal berikutnya, atau s


Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.

Butuh arahan lebih lanjut?

Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Reservasi via WhatsApp