Dokter Kandungan Jepara - Klinik Aqilla Sehat Spesialis Kebidanan dan Kandungan Di Jepara
Kehamilan

Plasenta Previa: Gejala dan Penanganan

Plasenta Previa

Plasenta previa adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) menempel di bagian bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (mulut rahim). Gejala utamanya adalah perdarahan berwarna merah segar dari vagina tanpa disertai nyeri, biasanya di trimester kedua atau ketiga. Penanganannya bergantung pada usia kehamilan, banyaknya perdarahan, serta kondisi ibu dan janin. Penanganan bisa berupa pemantauan ketat, pembatasan aktivitas, perawatan di rumah sakit, hingga persalinan yang direncanakan, umumnya melalui operasi caesar. Dengan pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat, banyak ibu dengan plasenta previa dapat menjalani kehamilan dengan lebih aman.

Apa Itu Plasenta Previa?

Plasenta adalah organ yang terbentuk selama kehamilan. Organ ini menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin, sekaligus membuang sisa metabolisme janin. Pada kehamilan normal, plasenta menempel di bagian atas atau samping dinding rahim, jauh dari mulut rahim.

Pada plasenta previa, plasenta berada di bagian bawah rahim dan menutupi jalan lahir. Karena jalan lahir tertutup, persalinan normal bisa memicu perdarahan berat. Itulah sebabnya kondisi ini perlu dipantau dengan saksama.

Dokter biasanya membedakan dua kondisi berdasarkan posisi plasenta:

  • Plasenta previa: plasenta menutupi mulut rahim, baik sebagian maupun seluruhnya.
  • Plasenta letak rendah: tepi plasenta berada sangat dekat dengan mulut rahim, tetapi tidak menutupinya.

Plasenta letak rendah cukup sering ditemukan saat USG di awal atau pertengahan kehamilan. Kabar baiknya, pada banyak ibu posisi plasenta tampak “bergeser” menjauhi mulut rahim seiring rahim membesar. Karena itu, dokter biasanya menjadwalkan USG ulang pada trimester ketiga untuk memastikan posisi akhir plasenta.

Gejala Plasenta Previa

Tanda yang paling khas adalah perdarahan dari vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan ini memiliki beberapa ciri:

  • Darah berwarna merah segar.
  • Muncul tiba-tiba, kadang saat ibu sedang beristirahat atau tidur.
  • Jumlahnya bisa sedikit atau banyak.
  • Bisa berhenti sendiri, lalu muncul kembali beberapa hari atau minggu kemudian.
  • Paling sering terjadi pada paruh kedua kehamilan.

Sebagian ibu juga merasakan kontraksi atau kram bersamaan dengan perdarahan. Ada pula ibu yang sama sekali tidak mengalami gejala, sehingga plasenta previa baru diketahui saat USG rutin. Inilah salah satu alasan pemeriksaan kehamilan teratur sangat penting.

Perdarahan tanpa nyeri berbeda dengan solusio plasenta (lepasnya plasenta sebelum waktunya). Solusio plasenta umumnya disertai nyeri perut dan rahim yang terasa keras. Meski begitu, perdarahan apa pun selama kehamilan tetap perlu diperiksakan ke dokter.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti plasenta previa belum sepenuhnya diketahui. Para ahli menduga kondisi ini berkaitan dengan keadaan dinding rahim yang memengaruhi tempat plasenta menempel. Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risikonya, antara lain:

  • Riwayat operasi caesar sebelumnya, terutama jika lebih dari satu kali.
  • Riwayat operasi lain pada rahim, misalnya pengangkatan miom atau kuretase.
  • Pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
  • Sudah beberapa kali hamil dan melahirkan.
  • Usia ibu saat hamil lebih tua, umumnya di atas 35 tahun.
  • Kehamilan kembar.
  • Kebiasaan merokok selama hamil.
  • Kehamilan dari program bayi tabung atau teknologi reproduksi berbantu.

Memiliki faktor risiko tidak berarti ibu pasti mengalami plasenta previa. Namun, informasi ini membantu dokter menentukan seberapa ketat pemantauan yang diperlukan.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan khusus. Ibu dengan plasenta previa yang pernah menjalani operasi caesar memiliki risiko lebih tinggi mengalami plasenta akreta. Pada kondisi ini, plasenta tertanam terlalu dalam ke dinding rahim sehingga sulit lepas saat persalinan. Dokter biasanya akan mengevaluasi kemungkinan ini melalui USG lanjutan.

Bagaimana Plasenta Previa Didiagnosis?

Diagnosis ditegakkan terutama melalui pemeriksaan USG. Dokter dapat memulai dengan USG melalui perut, lalu melanjutkan dengan USG transvaginal (melalui vagina) untuk melihat posisi plasenta lebih jelas. USG transvaginal yang dilakukan dengan hati-hati oleh tenaga kesehatan terlatih dianggap aman untuk ibu dengan plasenta previa.

Sebaliknya, pemeriksaan dalam menggunakan jari umumnya dihindari pada ibu yang diduga mengalami plasenta previa. Pemeriksaan ini dapat memicu perdarahan. Karena itu, sampaikan selalu kepada tenaga kesehatan jika Anda sudah pernah didiagnosis plasenta previa.

Penanganan Plasenta Previa

Tidak ada cara untuk memindahkan posisi plasenta. Tujuan penanganan adalah menjaga ibu dan janin tetap aman hingga waktu persalinan yang paling tepat. Rencana penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.

Jika Tidak Ada atau Hanya Sedikit Perdarahan

Dokter biasanya akan melakukan pemantauan rutin dan USG berkala. Ibu juga umumnya dianjurkan untuk:

  • Menghindari hubungan seksual dan memasukkan apa pun ke dalam vagina.
  • Menghindari aktivitas berat, mengangkat beban berat, dan olahraga yang berat.
  • Tidak bepergian jauh dari fasilitas kesehatan, terutama menjelang akhir kehamilan.
  • Menyiapkan rencana transportasi darurat jika terjadi perdarahan.

Jika Terjadi Perdarahan

Ibu biasanya perlu dirawat di rumah sakit untuk pemantauan lebih ketat. Penanganan yang mungkin diberikan meliputi:

  • Pemantauan tanda vital ibu dan detak jantung janin.
  • Pemberian cairan infus dan, bila perlu, transfusi darah.
  • Pemberian obat untuk membantu mematangkan paru-paru janin jika ada kemungkinan bayi lahir prematur.
  • Pemberian suntikan pencegahan khusus bagi ibu dengan golongan darah rhesus negatif, sesuai penilaian dokter.

Jika perdarahan berhenti dan kondisi stabil, ibu mungkin diperbolehkan pulang dengan pengawasan. Namun, jika perdarahan berat atau kondisi ibu atau janin memburuk, dokter dapat memutuskan persalinan segera demi keselamatan keduanya.

Persalinan

Pada plasenta previa yang menutupi mulut rahim, persalinan umumnya dilakukan melalui operasi caesar. Waktunya biasanya direncanakan sebelum ibu mengalami kontraksi persalinan. Dokter akan menentukan waktu yang paling aman dengan mempertimbangkan usia kehamilan, riwayat perdarahan, dan kondisi janin. Persalinan sebaiknya dilakukan di fasilitas kesehatan yang siap menangani perdarahan, termasuk memiliki persediaan darah.

Apa yang Bisa Dilakukan Ibu?

Selain mengikuti anjuran dokter, ada beberapa langkah yang dapat membantu ibu menjalani kehamilan dengan lebih tenang:

  • Datang ke setiap jadwal kontrol, termasuk USG ulang yang dijadwalkan dokter.
  • Ketahui golongan darah Anda dan simpan catatan medis kehamilan di tempat yang mudah dijangkau.
  • Siapkan rencana darurat, misalnya nomor kontak, kendaraan, dan pendamping yang siap kapan saja.
  • Konsumsi makanan bergizi yang kaya zat besi untuk membantu mencegah anemia, sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Berhenti merokok dan hindari paparan asap rokok.
  • Jaga kesehatan mental. Rasa cemas itu wajar, jadi bicarakan kekhawatiran Anda dengan pasangan, keluarga, atau dokter.

Kapan Harus ke Dokter

Segera ke fasilitas kesehatan atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat jika Anda hamil dan mengalami:

  • Perdarahan dari vagina, sekecil apa pun, terutama setelah usia kehamilan 20 minggu.
  • Perdarahan banyak, misalnya pembalut penuh dalam waktu singkat atau keluar gumpalan darah.
  • Kontraksi, kram perut, atau nyeri perut yang menetap.
  • Pusing, lemas, jantung berdebar, kulit pucat, atau merasa akan pingsan.
  • Gerakan janin berkurang atau tidak terasa seperti biasanya.
  • Keluar cairan dari vagina yang diduga air ketuban.

Jangan menunggu perdarahan berhenti sendiri dan jangan mengemudi sendiri ke rumah sakit. Mintalah orang lain untuk mengantar Anda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah plasenta letak rendah di awal kehamilan pasti menjadi plasenta previa?

Tidak selalu. Pada banyak ibu, plasenta yang tampak rendah di awal kehamilan akan menjauhi mulut rahim seiring rahim membesar. Dokter akan memastikan posisi plasenta melalui USG ulang di trimester ketiga.

Apakah ibu dengan plasenta previa bisa melahirkan normal?

Jika plasenta menutupi mulut rahim, persalinan normal tidak dianjurkan karena berisiko menimbulkan perdarahan berat. Pada plasenta letak rendah, dokter akan menilai apakah persalinan normal masih memungkinkan berdasarkan jarak plasenta dari mulut rahim dan kondisi lainnya.

Apakah plasenta previa disebabkan oleh kesalahan ibu?

Tidak. Plasenta previa bukan akibat kesalahan ibu, dan posisi plasenta tidak bisa diatur. Beberapa faktor risiko memang ada, tetapi kondisi ini juga bisa terjadi pada ibu tanpa faktor risiko apa pun.

Apakah plasenta previa bisa terjadi lagi di kehamilan berikutnya?

Riwayat plasenta previa dapat meningkatkan risiko kondisi serupa di kehamilan selanjutnya. Sampaikan riwayat ini kepada dokter sejak awal kehamilan berikutnya agar pemantauan bisa direncanakan dengan baik.

Plasenta previa memang memerlukan perhatian khusus, tetapi Anda tidak perlu menghadapinya sendirian. Jika Anda mengalami perdarahan saat hamil


Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.

Butuh arahan lebih lanjut?

Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Reservasi via WhatsApp