Pada kehamilan normal tanpa masalah khusus, USG umumnya dilakukan minimal dua hingga tiga kali. Waktu yang paling penting adalah trimester pertama (sekitar usia kehamilan 6–13 minggu), trimester kedua (sekitar 18–22 minggu), dan trimester ketiga (sekitar 32–36 minggu). Kementerian Kesehatan RI menganjurkan setiap ibu hamil menjalani USG oleh dokter setidaknya pada trimester pertama dan trimester ketiga sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin. Jika ditemukan kondisi tertentu, dokter bisa menyarankan USG lebih sering. Artikel ini menjelaskan tujuan USG di setiap tahap kehamilan dan apa yang perlu Anda persiapkan.
Apa Itu USG Kehamilan dan Mengapa Penting?
USG (ultrasonografi) adalah pemeriksaan yang memakai gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar janin, rahim, plasenta, dan air ketuban di layar monitor. Pemeriksaan ini tidak menggunakan radiasi seperti rontgen. USG juga tidak menimbulkan rasa sakit, meskipun beberapa jenis pemeriksaan bisa terasa sedikit tidak nyaman.
Secara umum, ada dua cara pemeriksaan USG kehamilan:
- USG transvaginal: alat (probe) dimasukkan perlahan ke dalam vagina. Cara ini sering dipakai pada awal kehamilan karena janin masih sangat kecil, sehingga gambarnya lebih jelas.
- USG transabdominal: alat digerakkan di atas perut yang sudah diolesi gel. Cara ini paling umum dipakai mulai akhir trimester pertama hingga menjelang persalinan.
USG penting karena banyak kondisi kehamilan tidak menimbulkan gejala yang bisa dirasakan ibu. Contohnya posisi plasenta yang menutupi jalan lahir, jumlah air ketuban yang tidak normal, atau janin yang tumbuh lebih lambat dari seharusnya. Dengan USG, kondisi seperti ini bisa terdeteksi lebih awal sehingga penanganannya bisa direncanakan dengan baik.
Jadwal USG Kehamilan di Setiap Trimester
Trimester Pertama (Usia Kehamilan hingga 13 Minggu)
USG pertama biasanya dilakukan setelah ibu mengetahui dirinya hamil, idealnya sekitar usia kehamilan 6–10 minggu. Tujuan utamanya antara lain:
- Memastikan kehamilan berada di dalam rahim, bukan kehamilan di luar kandungan (ektopik) yang bisa membahayakan ibu.
- Melihat detak jantung janin, yang umumnya mulai terlihat sekitar usia kehamilan 6–7 minggu.
- Menentukan usia kehamilan dan perkiraan tanggal persalinan secara lebih akurat. Pengukuran pada trimester pertama dianggap paling tepat untuk menentukan usia kehamilan.
- Mengetahui jumlah janin, termasuk apakah kehamilan kembar.
Pada usia kehamilan sekitar 11–14 minggu, dokter dapat menawarkan pemeriksaan tambahan berupa pengukuran ketebalan cairan di belakang leher janin (nuchal translucency). Pemeriksaan ini merupakan bagian dari skrining untuk menilai kemungkinan kelainan kromosom tertentu. Perlu dipahami bahwa hasilnya bersifat skrining, bukan diagnosis pasti. Hasil tersebut perlu dibicarakan bersama dokter.
Trimester Kedua (Usia Kehamilan 14–27 Minggu)
USG terpenting di trimester ini dilakukan sekitar usia kehamilan 18–22 minggu. Pemeriksaan ini sering disebut USG anatomi atau skrining kelainan struktur janin. Pada tahap ini, organ-organ janin sudah cukup berkembang untuk diperiksa satu per satu. Hal yang biasanya dinilai meliputi:
- Bentuk kepala, otak, wajah, dan tulang belakang.
- Jantung, termasuk ruang-ruang dan pembuluh darah besarnya.
- Organ perut seperti lambung, ginjal, dan kandung kemih.
- Tangan, kaki, serta pertumbuhan janin secara umum.
- Letak plasenta dan jumlah air ketuban.
Jenis kelamin janin juga sering sudah bisa terlihat pada pemeriksaan ini. Meski begitu, tujuan utama USG tetap untuk menilai kesehatan janin. Hasilnya juga bergantung pada posisi bayi saat diperiksa.
Trimester Ketiga (Usia Kehamilan 28 Minggu hingga Persalinan)
USG di trimester ketiga umumnya dilakukan sekitar usia kehamilan 32–36 minggu. Fokusnya adalah mempersiapkan persalinan, dengan menilai:
- Pertumbuhan janin, yaitu apakah ukuran dan perkiraan beratnya sesuai usia kehamilan.
- Posisi janin, misalnya kepala sudah di bawah, sungsang, atau melintang.
- Letak plasenta, terutama jika pada pemeriksaan sebelumnya plasenta tampak berada di bagian bawah rahim.
- Volume air ketuban, karena jumlah yang terlalu sedikit atau terlalu banyak perlu dipantau lebih ketat.
Informasi ini membantu dokter dan ibu merencanakan cara dan tempat persalinan yang paling aman.
Kapan USG Perlu Dilakukan Lebih Sering?
Jumlah USG di atas berlaku untuk kehamilan tanpa faktor risiko. Dokter mungkin menyarankan USG tambahan bila terdapat kondisi seperti:
- Kehamilan kembar.
- Tekanan darah tinggi atau preeklamsia.
- Diabetes sebelum hamil maupun diabetes gestasional.
- Riwayat keguguran, persalinan prematur, atau komplikasi pada kehamilan sebelumnya.
- Dugaan janin tumbuh terlalu kecil atau terlalu besar.
- Perdarahan, nyeri perut, atau gerakan janin yang berkurang.
- Plasenta letak rendah atau kelainan jumlah air ketuban.
- Kehamilan melewati perkiraan tanggal persalinan.
Pada kondisi tersebut, USG berkala membantu dokter memantau perkembangan janin dan menentukan langkah yang tepat.
Apakah USG Aman untuk Janin?
Berdasarkan pengalaman penggunaan selama puluhan tahun, USG dianggap aman bila dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dan sesuai kebutuhan medis. Organisasi kesehatan internasional tetap menganjurkan prinsip kehati-hatian. Artinya, USG sebaiknya dilakukan karena ada alasan medis, dengan durasi dan paparan secukupnya. Oleh karena itu, USG yang dilakukan semata-mata untuk kenang-kenangan, tanpa tujuan pemeriksaan, sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan.
Apa yang Bisa Ibu Lakukan untuk Persiapan USG?
- Catat hari pertama haid terakhir (HPHT). Informasi ini membantu dokter mencocokkan usia kehamilan dengan hasil USG.
- Tanyakan apakah kandung kemih perlu diisi atau dikosongkan. Untuk USG transvaginal, kandung kemih biasanya dikosongkan. Pada USG perut di awal kehamilan, terkadang ibu diminta minum air lebih dulu.
- Kenakan pakaian yang nyaman, misalnya atasan dan bawahan terpisah agar perut mudah diperiksa.
- Bawa buku KIA dan hasil pemeriksaan sebelumnya supaya perkembangan kehamilan bisa dibandingkan.
- Siapkan daftar pertanyaan. Jangan ragu menanyakan arti hasil pemeriksaan kepada dokter.
- Tetap jalani pemeriksaan kehamilan rutin. USG melengkapi, bukan menggantikan, pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tes darah, dan konsultasi kehamilan lainnya.
Kapan Harus ke Dokter
Jangan menunggu jadwal USG berikutnya bila Anda mengalami tanda bahaya berikut. Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat jika muncul:
- Perdarahan dari jalan lahir, baik sedikit maupun banyak.
- Nyeri perut hebat atau kram yang tidak kunjung reda.
- Keluar cairan dari jalan lahir yang dicurigai air ketuban.
- Gerakan janin berkurang atau tidak terasa pada kehamilan lanjut.
- Sakit kepala berat, pandangan kabur, atau nyeri ulu hati.
- Bengkak mendadak pada wajah, tangan, atau kaki.
- Demam tinggi, menggigil, atau muntah terus-menerus hingga tidak bisa makan dan minum.
- Kontraksi teratur sebelum usia kehamilan 37 minggu.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah USG 4 dimensi lebih baik daripada USG 2 dimensi?
Untuk menilai kesehatan janin, USG 2 dimensi sudah menjadi standar dan mampu memberikan informasi medis yang dibutuhkan. USG 3 atau 4 dimensi dapat membantu pada kasus tertentu, misalnya untuk memperjelas gambaran struktur wajah. Namun, pemeriksaan ini tidak wajib untuk semua kehamilan. Dokter akan menyarankan jenis USG sesuai kebutuhan.
Apakah USG transvaginal bisa menyebabkan keguguran?
Tidak. USG transvaginal dilakukan dengan lembut dan tidak menjangkau janin. Pemeriksaan ini aman dan sering justru menjadi pilihan terbaik pada awal kehamilan karena gambarnya lebih jelas.
Mengapa perkiraan tanggal persalinan bisa berubah setelah USG?
Perkiraan berdasarkan HPHT bisa kurang tepat, misalnya bila siklus haid tidak teratur atau tanggal haid terakhir tidak diingat dengan pasti. Pengukuran janin pada USG trimester pertama umumnya lebih akurat, sehingga dokter bisa menyesuaikan perkiraan tanggal persalinan.
Jika hasil USG normal, apakah kehamilan pasti tanpa masalah?
Hasil USG yang normal adalah kabar baik dan sangat menenangkan. Namun, tidak semua kondisi dapat terlihat melalui USG, dan sebagian masalah bisa muncul di kemudian hari. Karena itu, pemeriksaan kehamilan rutin tetap perlu dijalani hingga persalinan.
Setiap kehamilan itu unik, sehingga jadwal dan jumlah USG yang tepat dapat berbeda pada setiap ibu. Konsultasikan rencana pemeriksaan kehamilan
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.
