Dokter Kandungan Jepara - Klinik Aqilla Sehat Spesialis Kebidanan dan Kandungan Di Jepara
Kehamilan

Hipertensi dalam Kehamilan: Jenis dan Penanganannya

Hipertensi dalam Kehamilan

Hipertensi dalam kehamilan adalah kondisi ketika tekanan darah ibu hamil mencapai 140/90 mmHg atau lebih, yang diukur setidaknya dua kali dengan jarak waktu tertentu. Jenisnya ada empat: hipertensi kronik, hipertensi gestasional, preeklamsia (termasuk eklamsia), dan preeklamsia yang menumpang pada hipertensi kronik. Penanganannya tergantung jenis dan tingkat keparahannya. Umumnya meliputi pemantauan tekanan darah secara rutin, pemeriksaan kondisi ibu dan janin, penyesuaian gaya hidup, dan obat penurun tekanan darah yang aman untuk kehamilan bila diperlukan. Dengan deteksi dini dan pemeriksaan kehamilan yang teratur, sebagian besar ibu dengan hipertensi dapat menjalani kehamilan dengan lebih aman.

Mengapa Tekanan Darah Penting Selama Kehamilan?

Selama hamil, tubuh ibu banyak berubah. Volume darah bertambah, jantung bekerja lebih keras, dan pembuluh darah menyesuaikan diri untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi ke janin melalui plasenta. Pada kehamilan normal, tekanan darah cenderung sedikit turun di trimester pertama dan kedua, lalu kembali mendekati angka sebelum hamil menjelang persalinan.

Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat mengganggu aliran darah ke plasenta. Akibatnya, pertumbuhan janin bisa terhambat. Bagi ibu, hipertensi yang tidak terkontrol dapat memengaruhi organ penting seperti ginjal, hati, otak, dan jantung. Karena itu, pengukuran tekanan darah selalu menjadi bagian dari setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan.

Jenis-Jenis Hipertensi dalam Kehamilan

1. Hipertensi Kronik

Hipertensi kronik adalah tekanan darah tinggi yang sudah ada sebelum hamil, atau yang terdeteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini juga bisa ditetapkan bila tekanan darah tetap tinggi lebih dari 12 minggu setelah persalinan. Sebagian ibu sudah tahu dirinya memiliki hipertensi. Sebagian lain baru mengetahuinya saat pemeriksaan kehamilan pertama.

2. Hipertensi Gestasional

Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang baru muncul setelah usia kehamilan 20 minggu pada ibu yang sebelumnya bertekanan darah normal. Pada kondisi ini tidak ditemukan protein dalam urine maupun tanda gangguan organ lain. Tekanan darah biasanya kembali normal setelah melahirkan. Namun, sebagian ibu dengan hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklamsia, sehingga tetap perlu dipantau dengan saksama.

3. Preeklamsia dan Eklamsia

Preeklamsia adalah hipertensi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan disertai tanda gangguan organ. Tanda tersebut bisa berupa protein dalam urine, gangguan fungsi ginjal atau hati, penurunan jumlah trombosit, penumpukan cairan di paru-paru, atau keluhan saraf seperti sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan. Preeklamsia dapat juga muncul setelah persalinan, biasanya dalam beberapa hari hingga minggu pertama setelah melahirkan.

Eklamsia adalah kondisi ketika ibu dengan preeklamsia mengalami kejang. Ini merupakan keadaan gawat darurat. Bentuk berat lain yang perlu diwaspadai adalah sindrom HELLP, yaitu gabungan pecahnya sel darah merah, peningkatan enzim hati, dan rendahnya trombosit.

4. Preeklamsia pada Hipertensi Kronik

Ibu yang sudah memiliki hipertensi kronik dapat mengalami preeklamsia di pertengahan atau akhir kehamilan. Kondisi ini disebut preeklamsia superimposed. Tandanya antara lain tekanan darah yang makin sulit dikendalikan, munculnya protein dalam urine, atau tanda gangguan organ lainnya.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti preeklamsia belum sepenuhnya dipahami. Para ahli menduga kondisi ini berkaitan dengan gangguan pembentukan pembuluh darah plasenta di awal kehamilan. Gangguan tersebut kemudian memicu reaksi pada pembuluh darah di seluruh tubuh ibu. Hipertensi kronik umumnya dipengaruhi faktor keturunan, berat badan, pola makan, dan kondisi kesehatan lain.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dalam kehamilan:

  • Kehamilan pertama
  • Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
  • Riwayat hipertensi, penyakit ginjal, diabetes, atau penyakit autoimun seperti lupus
  • Kehamilan kembar
  • Usia ibu di atas 35 tahun
  • Kelebihan berat badan atau obesitas sebelum hamil
  • Riwayat keluarga (ibu atau saudara perempuan) dengan preeklamsia
  • Jarak kehamilan yang terlalu jauh dari kehamilan sebelumnya
  • Kehamilan melalui program bayi tabung

Memiliki faktor risiko tidak berarti ibu pasti mengalami hipertensi. Faktor risiko membantu dokter menentukan seberapa ketat pemantauan yang diperlukan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Pemeriksaan Kehamilan Secara Teratur

Kunjungan antenatal yang rutin adalah langkah paling penting. Pada setiap kunjungan, tekanan darah ibu diukur dan urine dapat diperiksa untuk mendeteksi protein. Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan darah serta USG untuk memantau pertumbuhan janin dan kondisi plasenta. Kementerian Kesehatan menganjurkan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan, termasuk pemeriksaan oleh dokter.

Pencegahan pada Ibu Berisiko Tinggi

Pada ibu yang dinilai berisiko tinggi mengalami preeklamsia, dokter dapat mempertimbangkan pemberian aspirin sejak trimester awal atau kedua sebagai upaya pencegahan. Pada ibu dengan asupan kalsium harian yang rendah, WHO menganjurkan suplementasi kalsium. Keduanya hanya boleh digunakan sesuai anjuran dokter, bukan atas inisiatif sendiri.

Pemantauan Tekanan Darah di Rumah

Dokter mungkin menyarankan ibu mengukur tekanan darah sendiri di rumah. Agar hasilnya akurat, perhatikan hal berikut:

  • Ukur dalam posisi duduk tenang setelah beristirahat sekitar lima menit.
  • Gunakan manset dengan ukuran yang sesuai lengan.
  • Catat hasilnya beserta tanggal dan jam, lalu bawa catatan tersebut saat kontrol.

Gaya Hidup Sehat

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya sayur, buah, protein, dan sumber kalsium.
  • Batasi makanan olahan dan makanan yang sangat asin.
  • Tetap aktif secara fisik dengan aktivitas ringan seperti jalan kaki, bila diizinkan dokter.
  • Cukupi istirahat dan kelola stres dengan baik.
  • Hindari rokok dan minuman beralkohol.

Penggunaan Obat Sesuai Resep

Bila tekanan darah cukup tinggi, dokter akan meresepkan obat penurun tekanan darah yang terbukti aman bagi kehamilan. Tidak semua obat hipertensi boleh diminum ibu hamil. Karena itu, ibu yang sudah rutin minum obat hipertensi sebelum hamil perlu segera berkonsultasi untuk menyesuaikan pengobatannya. Jangan menghentikan, mengganti, atau menambah obat tanpa sepengetahuan dokter.

Penanganan Preeklamsia

Pada preeklamsia, penanganan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan usia kehamilan. Ibu mungkin perlu kontrol lebih sering atau dirawat di rumah sakit untuk pemantauan ketat. Pada preeklamsia berat, dokter dapat memberikan obat untuk mencegah kejang, seperti magnesium sulfat, serta obat untuk mematangkan paru-paru janin. Dokter akan menimbang kondisi ibu dan janin untuk menentukan waktu dan cara persalinan yang paling aman bagi keduanya.

Setelah Melahirkan

Pemantauan tekanan darah tetap penting setelah persalinan, karena preeklamsia dapat muncul atau memburuk pada masa nifas. Ibu yang pernah mengalami hipertensi dalam kehamilan juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan pembuluh darah di kemudian hari. Pemeriksaan kesehatan berkala tetap dianjurkan dalam jangka panjang.

Kapan Harus ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat bila mengalami tanda-tanda berikut, baik selama hamil maupun setelah melahirkan:

  • Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
  • Sakit kepala hebat yang tidak membaik dengan istirahat
  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur, berkunang-kunang, atau melihat kilatan cahaya
  • Nyeri di ulu hati atau perut kanan atas
  • Mual dan muntah hebat pada pertengahan atau akhir kehamilan
  • Bengkak mendadak di wajah, tangan, atau kaki
  • Sesak napas
  • Jumlah urine berkurang drastis
  • Gerakan janin terasa berkurang
  • Kejang atau penurunan kesadaran: segera bawa ke IGD

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah kaki bengkak saat hamil selalu tanda preeklamsia?

Tidak selalu. Bengkak ringan di kaki, terutama di sore hari, cukup umum terjadi pada kehamilan normal. Namun, bengkak yang muncul tiba-tiba, cepat bertambah, atau terjadi di wajah dan tangan perlu segera diperiksakan, terutama bila disertai sakit kepala atau gangguan penglihatan.

Apakah ibu dengan hipertensi tetap bisa melahirkan normal?

Banyak ibu dengan hipertensi dalam kehamilan tetap bisa melahirkan secara normal. Cara persalinan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi ibu, kondisi janin, dan tingkat keparahan hipertensinya.

Apakah hipertensi gestasional akan hilang setelah melahirkan?

Pada sebagian besar ibu, tekanan darah kembali normal dalam beberapa minggu setelah persalinan. Bila tekanan darah tetap tinggi lebih dari 12 minggu setelah melahirkan, dokter akan mengevaluasi kemungkinan hipertensi kronik.

Jika pernah preeklamsia, apakah akan terulang di kehamilan berikutnya?

Riwayat preeklamsia meningkatkan risiko terjadinya kembali, tetapi tidak berarti pasti terulang. Sebaiknya ibu berkonsultasi sebelum merencanakan kehamilan berikutnya agar langkah pencegahan dapat dimulai sejak awal.

Hipertensi dal


Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.

Butuh arahan lebih lanjut?

Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Reservasi via WhatsApp