Tes TORCH adalah pemeriksaan darah untuk melihat antibodi terhadap beberapa infeksi yang dapat memengaruhi kehamilan, yaitu toksoplasma, rubela, cytomegalovirus (CMV), herpes simpleks, dan infeksi lain. Hasil IgG dan IgM tidak bisa dibaca sendiri sebagai diagnosis. Perlunya tes dan arti hasilnya sebaiknya dibahas bersama dokter kandungan sesuai kondisi masing-masing ibu.
Banyak ibu merasa cemas setelah menerima lembar hasil bertuliskan “IgG positif” atau “IgM reaktif”. Artikel ini membantu memahami istilah tersebut, kapan tes TORCH biasanya dipertimbangkan, dan pertanyaan apa yang dapat diajukan saat konsultasi.
Apa itu TORCH?
TORCH adalah singkatan dari sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan. Sebagian besar infeksi ini sering ringan atau tanpa gejala pada orang dewasa, tetapi dapat berdampak pada janin, terutama bila infeksi baru terjadi saat hamil.
Toksoplasma
Toksoplasmosis disebabkan parasit Toxoplasma gondii. Menurut CDC, penularan dapat terjadi melalui daging atau kerang yang kurang matang, sayur dan buah yang tidak dicuci, serta kontak dengan kotoran kucing atau tanah yang terkontaminasi. Kebanyakan orang dengan kekebalan tubuh normal tidak merasakan gejala.
Other (infeksi lain)
Huruf “O” mencakup infeksi lain yang relevan pada kehamilan, misalnya sifilis, varisela (cacar air), dan parvovirus B19. Cakupannya berbeda antar laboratorium, sehingga paket “TORCH” di satu tempat belum tentu sama isinya dengan tempat lain.
Rubela
Rubela (campak Jerman) adalah infeksi virus yang dapat dicegah dengan vaksin. CDC dan WHO menjelaskan bahwa infeksi rubela saat hamil, terutama di awal kehamilan, berisiko menyebabkan keguguran atau sindrom rubela kongenital pada bayi.
Cytomegalovirus (CMV)
CMV adalah virus yang umum dan menetap di tubuh seumur hidup setelah infeksi pertama. Virus ini menyebar melalui cairan tubuh seperti air liur dan urine, terutama dari bayi dan anak kecil. CDC menyebut bahwa ibu hamil yang terinfeksi dapat menularkan CMV ke janin.
Herpes simpleks
Virus herpes simpleks lebih banyak menjadi perhatian menjelang dan saat persalinan, terutama bila ada luka herpes aktif di area kelamin. Riwayat herpes perlu disampaikan kepada dokter agar perencanaan persalinan dapat disesuaikan.
| Infeksi | Penularan utama | Pencegahan umum | Vaksin |
|---|---|---|---|
| Toksoplasma | Daging kurang matang, sayur/buah tidak dicuci, kotoran kucing, tanah | Masak daging hingga matang, cuci bahan makanan, sarung tangan saat berkebun | Tidak ada |
| Rubela | Percikan saluran napas dari penderita | Vaksinasi sebelum hamil | Ada (vaksin hidup, tidak diberikan saat hamil) |
| CMV | Air liur dan urine, terutama dari anak kecil | Cuci tangan, tidak berbagi alat makan dengan balita | Tidak ada |
| Herpes simpleks | Kontak langsung, termasuk kontak seksual | Diskusikan riwayat dengan dokter | Tidak ada |
Apakah semua ibu hamil wajib tes TORCH?
Tidak selalu. Pemeriksaan panel TORCH lengkap umumnya tidak direkomendasikan secara rutin untuk semua ibu hamil yang tidak bergejala dan berisiko rendah. ACOG (Practice Bulletin No. 151) tidak menganjurkan skrining serologi rutin pada kehamilan untuk CMV, serta untuk toksoplasmosis di wilayah dengan prevalensi rendah seperti Amerika Serikat, karena hasilnya sering sulit ditafsirkan dan positif palsu dapat menimbulkan kecemasan atau tindakan yang tidak perlu. Praktik di tiap negara dan fasilitas dapat berbeda, sehingga perlu tidaknya tes sebaiknya diputuskan bersama dokter.
Perlu dibedakan dengan pemeriksaan yang memang menjadi bagian layanan antenatal di Indonesia, yaitu skrining triple eliminasi untuk HIV, sifilis, dan hepatitis B sesuai Permenkes No. 52 Tahun 2017. Pemeriksaan ini bertujuan mencegah penularan dari ibu ke anak dan dilakukan pada pelayanan pemeriksaan kehamilan (ANC). Triple eliminasi bukan tes TORCH, meski sifilis termasuk dalam kelompok “infeksi lain”.
Untuk rubela, idealnya status kekebalan sudah diketahui dan vaksinasi dilakukan sebelum hamil. Hal ini dibahas dalam artikel persiapan kehamilan (prakonsepsi).
Kapan tes TORCH dipertimbangkan?
Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan sebagian atau seluruh komponen TORCH pada situasi seperti berikut:
- Sebelum hamil atau saat program hamil, terutama untuk mengetahui kekebalan terhadap rubela atau pada perempuan dengan faktor risiko tertentu.
- Ada gejala saat hamil, seperti demam, ruam, nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening, atau gejala mirip flu yang tidak kunjung membaik.
- Kontak dengan penderita rubela, cacar air, atau infeksi parvovirus.
- Temuan USG yang mencurigakan, misalnya janin tumbuh lebih kecil dari usia kehamilan tanpa penyebab jelas (lihat bayi kecil dalam kandungan/IUGR), penumpukan cairan pada janin, atau kelainan tertentu pada otak janin.
- Kondisi kekebalan tubuh tertentu pada ibu yang membuat dokter perlu menilai risiko infeksi lebih cermat.
Keputusan sebaiknya dibuat bersama dokter, termasuk komponen apa yang benar-benar perlu diperiksa.
Cara membaca hasil IgG dan IgM
IgM adalah antibodi yang biasanya muncul lebih awal setelah infeksi, sedangkan IgG muncul kemudian dan dapat bertahan lama. Tabel berikut adalah gambaran umum, bukan interpretasi untuk hasil pribadi.
| Hasil | Makna umum | Langkah yang biasanya dibahas |
|---|---|---|
| IgG negatif, IgM negatif | Belum ada tanda pernah terinfeksi; belum memiliki kekebalan terhadap infeksi tersebut | Fokus pada pencegahan; untuk rubela, rencana vaksin setelah melahirkan atau sebelum kehamilan berikutnya |
| IgG positif, IgM negatif | Umumnya menandakan infeksi lama atau kekebalan (untuk rubela bisa karena vaksin) | Sering tidak memerlukan tindakan khusus, tetapi tetap dikonfirmasi dokter; pada CMV, infeksi ulang atau aktivasi kembali masih mungkin |
| IgG negatif, IgM positif | Bisa infeksi sangat baru, tetapi juga bisa positif palsu | Pemeriksaan ulang untuk melihat apakah IgG kemudian muncul |
| IgG positif, IgM positif | Bisa infeksi baru, atau IgM yang menetap dari infeksi lama | Tes aviditas IgG dan/atau pemeriksaan ulang sesuai saran dokter |
Mengapa IgM positif belum tentu infeksi baru?
IgM, terutama pada toksoplasma, dapat bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah infeksi. Selain itu, hasil positif palsu cukup sering terjadi. Karena itu, IgM positif sebaiknya tidak langsung diartikan sebagai infeksi yang sedang berlangsung.
Tes aviditas IgG dan pemeriksaan ulang
Tes aviditas mengukur seberapa “matang” antibodi IgG. Aviditas tinggi umumnya menunjukkan infeksi sudah terjadi cukup lama, sedangkan aviditas rendah dapat mengarah pada infeksi yang lebih baru. Dokter juga dapat meminta pemeriksaan ulang setelah beberapa minggu untuk melihat perubahan kadar antibodi. Hasil sebaiknya diperiksa di laboratorium yang berpengalaman dan ditafsirkan bersama riwayat serta usia kehamilan.
Infeksi pada ibu tidak berarti janin pasti terinfeksi
Walaupun ibu terbukti mengalami infeksi baru, janin belum tentu ikut terinfeksi. Risiko berbeda menurut jenis infeksi dan usia kehamilan saat infeksi terjadi. Untuk memastikan kondisi janin, dokter spesialis dapat mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan seperti USG terarah atau pemeriksaan air ketuban. Keputusan ini perlu dibahas secara individual dengan dokter kandungan atau konsultan fetomaternal.
Jika hasil mengarah ke infeksi baru, apa yang dilakukan?
- Konsultasi dengan dokter kandungan. Dokter akan menilai hasil lab bersama gejala, riwayat paparan, dan usia kehamilan, lalu menentukan apakah perlu rujukan ke fasilitas dengan layanan fetomaternal.
- Pemantauan kehamilan. USG berkala dapat direncanakan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi janin.
- Pengobatan sesuai jenis infeksi. Untuk toksoplasma, terdapat pengobatan tertentu yang dapat diresepkan dokter. Untuk CMV, belum ada pengobatan rutin selama kehamilan yang disepakati semua pedoman. Jangan membeli atau mengonsumsi obat apa pun tanpa resep dan pengawasan dokter.
Mencari kepastian dari forum atau media sosial sering justru menambah cemas. Catat pertanyaan Anda dan bawa seluruh hasil lab saat kontrol.
Cara mencegah infeksi TORCH selama hamil
- Masak daging hingga benar-benar matang dan hindari daging mentah atau setengah matang. Lihat juga larangan makanan untuk ibu hamil trimester pertama.
- Cuci sayur dan buah, termasuk lalapan, dengan air bersih sebelum dikonsumsi.
- Cuci tangan dengan sabun setelah mengolah daging mentah, berkebun, atau memegang tanah.
- Gunakan sarung tangan saat berkebun.
- Memelihara kucing tidak berarti kucing harus dibuang. Menurut artikel Kemenkes (keslan), parasit toksoplasma menyebar melalui kotoran kucing, bukan bulunya. Sebaiknya ibu hamil tidak membersihkan kotak pasir; bila terpaksa, gunakan sarung tangan dan cuci tangan sesudahnya. CDC menyarankan kotak pasir dibersihkan setiap hari.
- Untuk CMV, cuci tangan setelah mengganti popok atau menyeka air liur balita, dan hindari berbagi alat makan, gelas, atau dot dengan anak kecil.
- Vaksin rubela (MMR) adalah vaksin hidup sehingga diberikan sebelum hamil, bukan saat hamil. CDC menganjurkan menunda kehamilan setidaknya empat minggu setelah vaksin MMR. Informasi lebih lanjut ada di artikel imunisasi dan vaksin untuk ibu hamil.
Pembahasan mitos seputar kucing dan makanan juga dapat dibaca di pantangan ibu hamil: mitos dan fakta.
Kapan harus segera ke dokter?
Segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan bila mengalami:
- Demam disertai ruam selama hamil.
- Kontak dekat dengan penderita rubela atau cacar air dan belum yakin status kekebalan Anda.
- Gerakan janin terasa jauh berkurang.
- Perdarahan atau nyeri perut hebat (lihat tanda-tanda keguguran).
- Hasil lab IgM positif yang belum didiskusikan dengan dokter.
FAQ seputar tes TORCH
Kapan waktu terbaik melakukan tes TORCH?
Idealnya sebelum hamil, terutama untuk mengetahui kekebalan rubela agar vaksin dapat diberikan bila diperlukan. Selama hamil, tes umumnya dilakukan bila ada indikasi seperti gejala, paparan, atau temuan USG, sesuai pertimbangan dokter.
Apakah ibu hamil boleh memelihara kucing?
Umumnya boleh dengan kebersihan yang baik. Hindari membersihkan kotak pasir sendiri, gunakan sarung tangan bila terpaksa, cuci tangan, dan beri kucing makanan yang matang atau makanan kemasan.
Jika IgM toksoplasma positif, apakah janin pasti terinfeksi?
Tidak. IgM bisa menetap lama atau positif palsu, dan infeksi pada ibu belum tentu menular ke janin. Pemeriksaan lanjutan seperti tes aviditas dan konsultasi dokter diperlukan untuk menilai situasinya.
Apa beda tes TORCH dan triple eliminasi?
Triple eliminasi adalah skrining HIV, sifilis, dan hepatitis B yang menjadi bagian layanan ANC di Indonesia. Tes TORCH memeriksa antibodi toksoplasma, rubela, CMV, herpes, dan infeksi lain, dan umumnya dilakukan berdasarkan indikasi.
IgG rubela positif, apakah berbahaya?
IgG rubela positif dengan IgM negatif umumnya menandakan kekebalan, baik dari vaksin maupun infeksi lama. Tetap konfirmasikan hasil tersebut kepada dokter.
Kesimpulan
Tes TORCH bermanfaat pada situasi tertentu, tetapi bukan pemeriksaan yang otomatis diperlukan setiap ibu hamil. Hasil IgG dan IgM perlu ditafsirkan bersama riwayat, gejala, dan usia kehamilan, sering kali dengan tes aviditas atau pemeriksaan ulang. Pencegahan sederhana seperti mengolah makanan dengan benar, menjaga kebersihan tangan, dan vaksin rubela sebelum hamil tetap menjadi langkah penting. Jika Anda berada di Jepara dan ingin mendiskusikan hasil lab, lihat jadwal praktik dokter kandungan di Jepara.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau saran pengobatan dari dokter maupun bidan. Interpretasi hasil laboratorium dan keputusan pemeriksaan lanjutan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang menangani Anda. Baca juga Disclaimer Medis kami.
Referensi
- World Health Organization. Rubella (fact sheet). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/rubella (diakses 15 Oktober 2026).
- World Health Organization. WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience (2016). https://www.who.int/publications/i/item/WHO-RHR-16.12 (diakses 15 Oktober 2026).
- American College of Obstetricians and Gynecologists. Practice Bulletin No. 151: Cytomegalovirus, Parvovirus B19, Varicella Zoster, and Toxoplasmosis in Pregnancy (2015). https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/practice-bulletin/articles/2015/06/cytomegalovirus-parvovirus-b19-varicella-zoster-and-toxoplasmosis-in-pregnancy (diakses 15 Oktober 2026).
- Centers for Disease Control and Prevention. About Toxoplasmosis. https://www.cdc.gov/toxoplasmosis/about/ (diakses 15 Oktober 2026).
- Centers for Disease Control and Prevention. Preventing Toxoplasmosis. https://www.cdc.gov/toxoplasmosis/prevention/index.html (diakses 15 Oktober 2026).
- Centers for Disease Control and Prevention. Pregnancy and Rubella. https://www.cdc.gov/rubella/pregnancy/index.html (diakses 15 Oktober 2026).
- Centers for Disease Control and Prevention. About Cytomegalovirus. https://www.cdc.gov/cytomegalovirus/about/index.html (diakses 15 Oktober 2026).
- Kementerian Kesehatan RI, Ditjen Kesehatan Lanjutan. Mitos atau Fakta, Bulu Kucing Penyebab Toxso. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1769/mitos-atau-fakta-bulu-kucing-penyebab-toxso (diakses 15 Oktober 2026).
- Kementerian Kesehatan RI. Buku Referensi Skrining, Diagnosis dan Tatalaksana IMS pada Kehamilan. https://kms.kemkes.go.id/contents/1723177484526-BukuReferensiSkriningDiagnosisdanTatalaksanaIMSpadaKehamilan.pdf (diakses 15 Oktober 2026).
- Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak. https://peraturan.bpk.go.id/Details/112155/permenkes-no-52-tahun-2017 (diakses 15 Oktober 2026).





