Lilitan tali pusat di leher janin (nuchal cord) cukup sering ditemukan, terutama menjelang akhir kehamilan. Sebagian besar lilitan bersifat longgar dan bayi lahir sehat. Lilitan dapat lepas lalu terbentuk lagi selama kehamilan. Adanya lilitan saja tidak otomatis berarti harus caesar. Yang paling penting adalah memantau gerakan janin dan mengikuti pemeriksaan dokter.
Kalimat “bayinya ada lilitan, Bu” saat USG trimester ketiga sering membuat cemas: apakah berbahaya, bisa lepas sendiri, harus operasi, atau ada posisi tidur yang membantu? Artikel ini membahasnya berdasarkan bukti ilmiah, termasuk keterbatasan USG dan mitos yang beredar.
Apa itu lilitan tali pusat?
Tali pusat adalah “saluran” yang menghubungkan janin dengan plasenta. Di dalamnya ada dua pembuluh arteri dan satu vena yang membawa oksigen serta nutrisi ke janin dan membawa sisa metabolisme kembali ke plasenta. Pembuluh-pembuluh ini dibungkus jaringan seperti gel yang disebut Wharton’s jelly. Menurut tinjauan Peesay (2017), jaringan ini diperkirakan berfungsi sebagai bantalan yang melindungi pembuluh darah dari tekanan, tekukan, atau lilitan.
Lilitan tali pusat di leher berarti tali pusat melingkar penuh setidaknya satu kali di sekitar leher janin. Tali pusat juga bisa melingkar di badan atau anggota gerak. Lilitan bisa satu kali (tunggal) atau lebih (ganda atau multipel), dan bisa longgar atau ketat.
Seberapa sering bayi terlilit tali pusat?
Cukup sering. Tinjauan Peesay (2017) menyebut lilitan tali pusat di leher terjadi pada sekitar 10–29% janin, dan kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Tinjauan tersebut mengutip studi Larson dan kawan-kawan yang mencatat kejadian sekitar 6% pada usia 20 minggu dan 29% pada usia 42 minggu. Artinya, lilitan tali pusat adalah temuan yang umum, bukan kejadian langka.
Kenapa bayi bisa terlilit tali pusat?
Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami. Tinjauan Sherer dan kawan-kawan (2020) menjelaskan bahwa lilitan tampaknya berkaitan dengan gerakan janin yang memang normal di dalam rahim. Faktor yang disebut dapat meningkatkan kemungkinannya antara lain:
- tali pusat yang panjang,
- air ketuban berlebih, sehingga janin punya ruang gerak lebih luas,
- kehamilan lewat bulan,
- janin laki-laki, serta beberapa faktor lain yang dibahas dalam literatur.
Hal yang perlu ditegaskan: lilitan tali pusat bukan akibat aktivitas atau kesalahan ibu. Ibu tidak perlu merasa bersalah. Pada kehamilan kembar, terutama pada kembar yang berbagi satu kantong ketuban, tali pusat juga dapat saling membelit, tetapi kondisi ini dipantau dokter secara khusus dan berbeda dari pembahasan artikel ini.
Bagaimana lilitan diketahui, dan apa batas USG?
Lilitan tali pusat biasanya terlihat sebagai temuan kebetulan saat USG kehamilan, sering dengan bantuan Doppler berwarna. Tidak ada gejala khas yang bisa dirasakan ibu. Janin yang “banyak bergerak” bukan ciri lilitan.
Ada beberapa keterbatasan yang penting dipahami:
- USG tidak selalu akurat. Dalam studi Peregrine dan kawan-kawan yang dilakukan tepat sebelum induksi persalinan, USG hanya mendeteksi sekitar 37,5% lilitan yang ternyata ada saat lahir. Sebaliknya, sebagian lilitan yang terlihat di USG ternyata tidak ditemukan saat persalinan.
- USG tidak dapat memastikan lilitan ketat atau longgar. Artikel di O&G Magazine RANZCOG menyebut USG dapat membedakan lilitan tunggal dan multipel, tetapi tidak dapat secara andal menilai apakah lilitan tersebut ketat.
- Lilitan bersifat dinamis. Lilitan dapat lepas lalu terbentuk lagi selama kehamilan. Namun, makin dekat waktu persalinan, lilitan yang ada cenderung lebih mungkin bertahan hingga lahir.
Karena itu, hasil USG tentang lilitan sebaiknya dibaca bersama pemeriksaan lain, bukan dijadikan satu-satunya dasar keputusan.
Apakah lilitan tali pusat berbahaya?
Umumnya tidak berbahaya
Tinjauan Peesay (2017) menyebut sebagian besar lilitan tali pusat tidak berhubungan dengan kesakitan atau kematian bayi di sekitar persalinan. Artikel O&G Magazine RANZCOG juga menyimpulkan bahwa lilitan yang ditemukan saat lahir umumnya tidak dikaitkan dengan gangguan bermakna yang menetap pada bayi. Sebagian besar ibu dengan temuan lilitan melahirkan bayi yang sehat.
Kapan dokter lebih waspada?
Pada sebagian kecil kasus, terutama bila lilitan ketat atau lebih dari satu, tali pusat dapat tertekan sehingga aliran darah ke janin terganggu untuk sementara. Literatur, antara lain tinjauan Sherer (2020) dan artikel O&G Magazine RANZCOG, menyebut beberapa keadaan yang membuat dokter memantau lebih cermat, misalnya:
- lilitan multipel (dua kali atau lebih),
- lilitan disertai pertumbuhan janin terhambat. Baca bayi kecil dalam kandungan (IUGR),
- hasil Doppler yang menunjukkan gangguan aliran darah,
- air ketuban sedikit. Baca air ketuban sedikit (oligohidramnion),
- gerakan janin yang berkurang,
- perubahan denyut jantung janin saat persalinan.
Dalam keadaan seperti ini, dokter dapat menyesuaikan jadwal kontrol dan pemeriksaan. Bentuk pemantauannya bergantung pada kondisi masing-masing ibu dan janin.
Apakah harus caesar? Bisakah lahir normal?
Lilitan tali pusat saja tidak otomatis berarti harus caesar. Artikel O&G Magazine RANZCOG menyatakan bahwa induksi persalinan tidak diindikasikan hanya karena lilitan tunggal bila tidak ada alasan lain, dan operasi caesar tidak diindikasikan bila tidak ada tanda gangguan pada janin. Pada lilitan multipel, artikel yang sama menyebut persalinan normal saat cukup bulan tidak dilarang, tetapi keputusan diambil bersama dokter yang menangani.
Studi prospektif Peregrine dan kawan-kawan juga menemukan bahwa adanya lilitan tidak meningkatkan risiko caesar secara bermakna pada ibu yang menjalani induksi persalinan.
Namun, “tidak otomatis caesar” juga tidak berarti “pasti bisa lahir normal”. Selama persalinan, denyut jantung janin dipantau. Bila muncul perubahan yang mengkhawatirkan, tim medis akan bertindak sesuai kondisi, yang dapat berupa tindakan untuk mempercepat persalinan, termasuk caesar. Cara dan waktu persalinan adalah keputusan dokter berdasarkan kondisi ibu dan janin, misalnya posisi janin, letak plasenta, pertumbuhan janin, dan perkembangan persalinan. Pelajari lebih lanjut tentang penyebab persalinan caesar, tahapan persalinan normal, dan persiapan melahirkan normal. Bila janin juga dalam posisi sungsang, baca proses kelahiran bayi sungsang.
Bedakan dengan tali pusat menumbung (darurat)
Lilitan tali pusat berbeda dengan tali pusat menumbung. Pada tali pusat menumbung, tali pusat turun mendahului bagian terbawah janin, biasanya setelah ketuban pecah, sehingga dapat terjepit. Menurut StatPearls, kondisi ini adalah kegawatdaruratan obstetri. Bila setelah ketuban pecah Anda melihat atau merasakan ada sesuatu seperti tali di vagina, segera ke IGD terdekat. Baca juga ketuban pecah dini.
Mitos dan fakta seputar lilitan tali pusat
- Mitos: mengangkat tangan tinggi-tinggi atau menjemur pakaian menyebabkan bayi terlilit. Fakta: tidak ada bukti bahwa gerakan lengan ibu menyebabkan lilitan. Lilitan berkaitan dengan gerakan janin sendiri dan faktor tali pusat.
- Mitos: mengalungkan handuk atau kain di leher membuat bayi terlilit. Fakta: tidak ada hubungan antara benda di leher ibu dan tali pusat janin.
- Mitos: posisi sujud, nungging, atau gerakan tertentu bisa melepas lilitan. Fakta: belum ada bukti bahwa posisi atau gerakan tertentu dapat melepas lilitan. Jangan memijat atau mencoba memutar janin lewat perut, apalagi oleh orang yang bukan tenaga medis, karena dapat berbahaya.
- Mitos: janin yang banyak bergerak berarti sedang berusaha melepas lilitan. Fakta: gerakan aktif adalah tanda janin sehat. Yang perlu diwaspadai justru gerakan yang berkurang.
Tidur miring tetap boleh dan sering dianjurkan untuk kenyamanan ibu hamil, tetapi bukan sebagai cara melepas lilitan. Baca posisi tidur ibu hamil yang nyaman.
Apa yang bisa ibu lakukan?
- Kenali pola gerakan janin. Artikel O&G Magazine RANZCOG menyarankan ibu dengan temuan lilitan tetap memantau gerakan janin dan melaporkan perubahan yang tidak biasa. Pelajari caranya di gerakan janin normal dan cara menghitungnya.
- Kontrol kehamilan sesuai jadwal. WHO menganjurkan pemeriksaan kehamilan yang teratur. Ikuti jadwal yang dibuat dokter atau bidan Anda.
- Tidak perlu USG berulang hanya untuk “mengecek lilitan” bila dokter tidak menganjurkannya (O&G Magazine RANZCOG). Hasilnya tidak selalu akurat dan bisa berubah.
- Kelola rasa cemas. Tanyakan langsung kepada dokter arti temuan USG Anda, dan ajak pasangan atau keluarga berdiskusi. Informasi lain tentang akhir kehamilan dapat dibaca di trimester ketiga: yang perlu diketahui.
Kapan harus segera ke rumah sakit?
Kementerian Kesehatan menyebut gerakan janin yang kurang aktif atau berhenti sebagai tanda bahaya kehamilan. Menurut Kemenkes, bila dalam dua jam janin bergerak kurang dari sepuluh kali, segera periksakan ke tenaga kesehatan. Panduan pasien RCOG juga menyarankan agar ibu dengan usia kehamilan di atas 28 minggu segera menghubungi tenaga kesehatan bila gerakan janin berkurang, tanpa menunggu keesokan harinya.
Datanglah ke fasilitas kesehatan terdekat atau IGD bila mengalami:
- gerakan janin berkurang, berubah pola, atau tidak terasa,
- cairan keluar atau merembes dari vagina,
- perdarahan dari vagina,
- nyeri perut hebat atau kontraksi teratur sebelum waktunya,
- ada sesuatu yang terlihat atau teraba di vagina setelah ketuban pecah.
FAQ seputar bayi terlilit tali pusat
Apakah lilitan tali pusat bisa lepas sendiri?
Bisa. Penelitian dengan USG menunjukkan lilitan dapat lepas dan terbentuk kembali selama kehamilan. Namun, makin dekat waktu persalinan, lilitan cenderung lebih mungkin bertahan. Yang terpenting bukan memastikan lilitan lepas, tetapi memastikan kondisi janin tetap baik.
Lilitan tali pusat 2 kali apakah berbahaya?
Lilitan ganda lebih jarang dan umumnya dipantau lebih cermat daripada lilitan tunggal. Meski begitu, lilitan ganda tidak otomatis berarti bayi dalam bahaya atau harus caesar. Dokter akan menilai pertumbuhan janin, hasil pemeriksaan lain, dan kondisi selama persalinan.
Lilitan tali pusat di usia 37 minggu harus bagaimana?
Tetap kontrol sesuai jadwal, pantau gerakan janin setiap hari, dan diskusikan rencana persalinan dengan dokter. Lilitan saja umumnya bukan alasan untuk mempercepat persalinan bila tidak ada masalah lain. Keputusan waktu dan cara persalinan tetap ditentukan dokter berdasarkan kondisi Anda.
Apakah ada tanda bayi terlilit tali pusat yang bisa dirasakan ibu?
Tidak ada tanda khas. Lilitan hanya dapat diduga lewat USG, itu pun tidak selalu akurat. Yang perlu ibu perhatikan adalah gerakan janin yang berkurang atau berubah pola. Bila terjadi, segera periksakan diri.
Apakah lilitan tali pusat disebabkan aktivitas ibu?
Tidak. Tidak ada bukti bahwa mengangkat tangan, menjemur pakaian, atau mengalungkan handuk menyebabkan lilitan. Lilitan berkaitan dengan gerakan janin dan faktor tali pusat itu sendiri.
Apakah posisi sujud atau nungging bisa melepas lilitan?
Belum ada bukti bahwa posisi tersebut dapat melepas lilitan. Pilih posisi yang nyaman, dan jangan mencoba memijat atau memutar janin lewat perut.
Kesimpulan
Bayi terlilit tali pusat adalah temuan yang cukup sering, dan sebagian besar bayi dengan lilitan lahir sehat. USG tidak selalu dapat memastikan ada tidaknya lilitan atau seberapa ketat lilitannya, dan lilitan dapat berubah selama kehamilan. Lilitan saja tidak otomatis berarti harus caesar, tetapi juga tidak menjamin persalinan pasti berjalan tanpa masalah. Keputusan cara dan waktu persalinan dibuat dokter berdasarkan kondisi ibu dan janin. Hal terpenting yang bisa ibu lakukan adalah memantau gerakan janin, kontrol teratur, dan segera ke fasilitas kesehatan bila ada tanda bahaya. Jika Anda berada di Jepara dan ingin memeriksakan kehamilan, lihat jadwal praktik dokter kandungan di Jepara.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau saran pengobatan dari dokter maupun bidan. Penilaian hasil USG, pemantauan janin, serta waktu dan cara persalinan harus ditentukan oleh tenaga kesehatan yang menangani Anda. Baca juga Disclaimer Medis kami.
Referensi
- Peesay M. Nuchal cord and its implications. Maternal Health, Neonatology and Perinatology 2017;3:28. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5719938/ (diakses 18 Oktober 2026).
- Sherer DM, et al. Current Perspectives of Prenatal Sonographic Diagnosis and Clinical Management Challenges of Nuchal Cord(s). Int J Womens Health 2020;12:613–631. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7500175/ (diakses 18 Oktober 2026).
- Peregrine E, O’Brien P, Jauniaux E. Ultrasound detection of nuchal cord prior to labor induction and the risk of Cesarean section. Ultrasound Obstet Gynecol 2005;25(2):160–4. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15543520/ (diakses 18 Oktober 2026).
- O&G Magazine (RANZCOG). The ties that bind us: the nuchal cord. Vol. 12 No. 1, 2010. https://www.ogmagazine.org.au/12/1-12/ties-bind-us-nuchal-cord/ (diakses 18 Oktober 2026).
- StatPearls. Umbilical Cord Prolapse. NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542241/ (diakses 18 Oktober 2026).
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Reduced Fetal Movements (Green-top Guideline No. 57). https://www.rcog.org.uk/guidance/browse-all-guidance/green-top-guidelines/reduced-fetal-movements-green-top-guideline-no-57/ (diakses 18 Oktober 2026).
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Your baby’s movements in pregnancy (informasi pasien). https://www.rcog.org.uk/for-the-public/browse-our-patient-information/your-babys-movements-in-pregnancy/ (diakses 18 Oktober 2026).
- Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Tanda Bahaya Kehamilan yang Harus Diketahui Oleh Ibu Hamil. https://ayosehat.kemkes.go.id/tanda-bahaya-kehamilan-yang-harus-diketahui-oleh-ibu-hamil (diakses 18 Oktober 2026).
- Kementerian Kesehatan RI, Ditjen Kesehatan Lanjutan. Tanda-Tanda Bahaya pada Ibu Hamil. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1136/tanda-tanda-bahaya-pada-ibu-hamil (diakses 18 Oktober 2026).
- World Health Organization. WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience (2016). https://www.who.int/publications/i/item/9789241549912 (diakses 18 Oktober 2026).





