Cara paling aman dan terbukti untuk memperlancar ASI adalah menyusui atau memerah sesering mungkin dengan pelekatan yang benar. Produksi ASI bekerja dengan prinsip “permintaan dan pasokan”: semakin sering dan semakin efektif payudara dikosongkan, semakin banyak ASI yang diproduksi. Kontak kulit ke kulit, istirahat cukup, makan bergizi, dan dukungan keluarga juga membantu. Sebagian besar ibu sebenarnya mampu menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya. Kuncinya ada pada cara dan frekuensi menyusui, bukan pada makanan atau suplemen tertentu.
Bagaimana ASI Diproduksi?
Produksi ASI dipengaruhi oleh dua hormon utama. Prolaktin berperan membuat ASI, sedangkan oksitosin berperan mengalirkan ASI keluar dari payudara (sering disebut refleks let-down). Setiap kali bayi mengisap, tubuh ibu menerima sinyal untuk memproduksi lebih banyak ASI.
Pada beberapa hari pertama setelah melahirkan, payudara menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal yang kental, berwarna kekuningan, dan jumlahnya sedikit. Jumlah yang sedikit ini sebenarnya sesuai dengan ukuran lambung bayi baru lahir yang masih sangat kecil. Umumnya ASI mulai bertambah banyak sekitar hari ke-2 sampai ke-5 setelah persalinan. Banyak ibu khawatir ASI-nya kurang pada masa ini, padahal kondisi tersebut normal.
Penyebab ASI Terasa Kurang atau Tidak Lancar
Ada beberapa hal yang dapat membuat ASI terasa sedikit atau alirannya kurang lancar, antara lain:
- Frekuensi menyusui jarang. Menunda menyusui atau menjadwalkannya terlalu ketat membuat payudara jarang dikosongkan, sehingga produksi ikut menurun.
- Pelekatan kurang tepat. Jika bayi hanya mengisap puting, bukan sebagian besar areola, ASI tidak keluar dengan baik dan puting bisa lecet.
- Pemberian susu formula atau dot tanpa indikasi medis. Bayi menjadi kenyang sehingga lebih jarang menyusu, dan rangsangan ke payudara berkurang.
- Stres, nyeri, dan kelelahan. Kondisi ini dapat menghambat refleks pengeluaran ASI, walaupun ASI-nya sendiri tetap diproduksi.
- Kondisi kesehatan ibu. Misalnya gangguan tiroid, sindrom ovarium polikistik (PCOS), perdarahan hebat saat persalinan, sisa jaringan plasenta, riwayat operasi payudara, atau penggunaan obat tertentu.
- Kondisi bayi. Bayi prematur, bayi kuning yang mengantuk, atau bayi dengan tali lidah pendek (tongue-tie) kadang kesulitan mengisap dengan efektif.
Perlu diingat, banyak ibu merasa ASI-nya kurang padahal sebenarnya cukup. Payudara yang terasa lebih lembek setelah beberapa minggu, bayi yang sering minta menyusu saat masa lonjakan pertumbuhan, atau hasil perahan yang sedikit belum tentu berarti ASI kurang.
Tanda Bayi Mendapat ASI yang Cukup
Sebelum berusaha menambah produksi, kenali dulu tanda bahwa bayi sudah cukup ASI:
- Setelah hari ke-5, bayi buang air kecil sedikitnya 6 kali sehari dengan urine jernih atau kuning muda.
- Bayi buang air besar secara teratur, dan warna tinja berubah dari hitam kehijauan menjadi kuning pada minggu pertama.
- Berat badan bayi kembali ke berat lahir dalam sekitar 10–14 hari, lalu terus naik sesuai grafik pertumbuhan.
- Bayi tampak puas setelah menyusu, aktif saat terjaga, dan terdengar menelan selama menyusu.
Cara Memperlancar ASI yang Aman
1. Mulai Menyusui Sedini Mungkin
WHO dan Kementerian Kesehatan menganjurkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam pertama setelah lahir, jika kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Kontak awal ini membantu merangsang hormon menyusui dan mempermudah bayi belajar menyusu.
2. Susui Sesering Bayi Mau
Bayi baru lahir umumnya menyusu 8–12 kali atau lebih dalam 24 jam, termasuk pada malam hari. Susui sesuai tanda lapar bayi, seperti membuka mulut, menoleh mencari puting, atau memasukkan tangan ke mulut. Jangan menunggu bayi menangis karena menangis adalah tanda lapar yang sudah terlambat. Menyusu di malam hari sangat penting karena kadar prolaktin cenderung lebih tinggi pada waktu tersebut.
3. Pastikan Pelekatan dan Posisi Benar
Pelekatan yang baik adalah kunci keberhasilan menyusui. Tanda-tandanya:
- Mulut bayi terbuka lebar, dan bibir bawah terlipat ke luar.
- Dagu bayi menempel pada payudara.
- Bagian areola lebih banyak terlihat di atas bibir atas daripada di bawah bibir bawah.
- Pipi bayi tampak membulat, tidak cekung saat mengisap.
- Ibu tidak merasakan nyeri yang menetap selama menyusui.
Posisikan tubuh bayi menghadap ibu dengan telinga, bahu, dan pinggul dalam satu garis lurus. Coba berbagai posisi seperti posisi dibuai, posisi berbaring miring, atau posisi mengepit (football hold), terutama bagi ibu yang melahirkan dengan operasi caesar.
4. Kosongkan Kedua Payudara
Biarkan bayi menyusu sampai puas di satu payudara, lalu tawarkan payudara yang lain. Pengosongan payudara memberi sinyal kepada tubuh untuk memproduksi ASI lebih banyak. Teknik kompresi payudara, yaitu menekan lembut payudara saat bayi mulai melambat mengisap, dapat membantu ASI mengalir lebih banyak.
5. Perah ASI Jika Diperlukan
Jika bayi belum bisa menyusu langsung, misalnya karena dirawat terpisah, atau ibu ingin meningkatkan produksi, perah ASI dengan tangan atau pompa setelah menyusui atau di antara waktu menyusui. Ibu yang terpisah dari bayinya sebaiknya memerah sekitar 8 kali dalam 24 jam, termasuk sekali di malam hari. Memerah dengan tangan sangat efektif terutama pada hari-hari awal ketika kolostrum masih sedikit.
6. Lakukan Kontak Kulit ke Kulit
Mendekap bayi tanpa baju di dada ibu (metode kanguru) membantu menenangkan ibu dan bayi, merangsang oksitosin, dan membuat bayi lebih sering ingin menyusu. Cara ini bermanfaat bagi semua bayi, terutama bayi prematur atau bayi berat lahir rendah.
7. Hindari Susu Formula dan Dot Tanpa Indikasi Medis
Pada minggu-minggu awal, pemberian susu formula atau dot sebaiknya hanya dilakukan atas saran tenaga kesehatan. Jika bayi memang memerlukan tambahan, ASI perah bisa diberikan dengan sendok, cangkir kecil, atau alat bantu lain agar bayi tidak bingung puting.
8. Jaga Pola Makan, Minum, dan Istirahat
Ibu menyusui tidak memerlukan makanan khusus. Konsumsi makanan bergizi seimbang, minum ketika haus, dan istirahat sebisa mungkin, misalnya ikut tidur saat bayi tidur. Makanan tradisional seperti daun katuk sering dipercaya memperlancar ASI dan umumnya aman sebagai bagian dari menu sehari-hari. Namun, bukti ilmiahnya masih terbatas, dan makanan ini tidak bisa menggantikan menyusui yang sering dan efektif. Hindari merokok dan alkohol. Jangan mengonsumsi jamu, suplemen, atau obat pelancar ASI tanpa berkonsultasi dengan dokter.
9. Kelola Stres dan Minta Dukungan
Suasana tenang membantu refleks pengeluaran ASI. Sebelum menyusui, ibu bisa mencoba kompres hangat, pijat lembut payudara, mendengarkan musik, atau memandang dan menyentuh bayi. Peran suami dan keluarga sangat besar, misalnya dengan membantu pekerjaan rumah, menemani di malam hari, dan memberi semangat. Konselor laktasi di fasilitas kesehatan juga dapat membantu menilai pelekatan secara langsung.
Kapan Harus ke Dokter
Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan jika muncul tanda-tanda berikut:
- Bayi buang air kecil kurang dari 6 kali sehari setelah hari ke-5, urine berwarna pekat, atau mulut tampak kering.
- Berat badan bayi turun banyak setelah lahir atau belum kembali ke berat lahir setelah sekitar 2 minggu.
- Bayi tampak sangat lemas, sulit dibangunkan untuk menyusu, atau kulit dan matanya makin kuning.
- Payudara merah, bengkak, panas, dan nyeri, disertai demam atau badan meriang, yang bisa menjadi tanda mastitis.
- Muncul benjolan yang nyeri dan tidak membaik, atau keluar nanah dari payudara.
- Puting lecet berat, berdarah, atau nyeri yang tidak membaik meski posisi menyusui sudah diperbaiki.
- ASI tidak kunjung bertambah setelah hari ke-5, terutama jika ibu memiliki riwayat perdarahan hebat saat persalinan, gangguan hormon, atau operasi payudara.
- Ibu merasa sangat sedih, cemas, atau kewalahan secara terus-menerus.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah ukuran payudara memengaruhi jumlah ASI?
Tidak. Ukuran payudara lebih banyak ditentukan oleh jaringan lemak, bukan jaringan kelenjar penghasil ASI. Ibu dengan payudara kecil tetap bisa menghasilkan ASI yang cukup jika menyusui sering dan efektif.
Apakah hasil pompa yang sedikit berarti ASI saya kurang?
Belum tentu. Bayi umumnya lebih efektif mengeluarkan ASI daripada pompa. Hasil perahan juga dipengaruhi oleh waktu memerah, ukuran corong pompa, dan kondisi ibu. Tanda yang lebih bisa dipercaya adalah jumlah popok basah dan kenaikan berat badan bayi.
Apakah ibu menyusui harus minum susu atau makan dalam porsi sangat banyak?
Tidak harus. Kebutuhan energi ibu menyusui memang sedikit meningkat, tetapi cukup dipenuhi dengan menu bergizi seimbang dan minum air putih saat haus. Minum berlebihan tidak terbukti menambah produksi ASI.
Mengapa bayi tiba-tiba ingin menyusu terus-menerus?
Hal ini sering terjadi saat bayi mengalami lonjakan pertumbuhan. Menyusu lebih sering selama beberapa hari justru membantu tubuh ibu menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi, jadi kondisi ini bukan berarti ASI ibu kurang.
Setiap perjalanan menyusui itu unik, dan wajar jika ibu membutuhkan bantuan di awal. Jika Anda ragu apakah ASI sudah cukup, mengalami nyeri saat menyusui, atau memiliki kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi produksi ASI, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dokter dapat memeriksa kondisi Anda setelah melahirkan dan memberikan saran yang sesuai, sehingga Anda bisa menyusui dengan lebih tenang dan nyaman.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.
