Payudara bengkak (engorgement) dan mastitis adalah dua masalah yang cukup sering dialami ibu menyusui, terutama di minggu-minggu awal setelah melahirkan. Payudara bengkak biasanya terjadi karena ASI menumpuk dan aliran darah serta cairan di jaringan payudara meningkat. Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang bisa disertai infeksi, ditandai area merah, nyeri, terasa panas, dan sering disertai demam. Kabar baiknya, sebagian besar kasus bisa membaik dengan perawatan yang tepat. Kuncinya adalah tetap menyusui, mengeluarkan ASI dengan nyaman, dan mengenali kapan perlu pemeriksaan dokter.
Apa Itu Payudara Bengkak dan Mastitis?
Payudara Bengkak (Engorgement)
Dalam beberapa hari pertama setelah persalinan, biasanya sekitar hari ke-2 hingga ke-5, produksi ASI meningkat dengan cepat. Pada masa ini, payudara bisa terasa penuh, berat, keras, hangat, dan nyeri. Pembengkakan tidak hanya disebabkan oleh ASI, tetapi juga oleh bertambahnya aliran darah dan cairan di jaringan sekitar kelenjar susu. Kondisi ini bisa membuat areola (bagian gelap di sekitar puting) menjadi tegang, sehingga bayi lebih sulit melekat dengan baik.
Rasa penuh pada payudara di awal menyusui sebenarnya normal. Namun, bila payudara menjadi sangat keras, mengilap, dan sangat nyeri, itu tanda bengkak yang perlu ditangani agar tidak berlanjut menjadi masalah lain.
Mastitis
Mastitis adalah peradangan jaringan payudara. Pedoman terbaru memandang mastitis sebagai bagian dari rangkaian kondisi peradangan, mulai dari saluran ASI yang tersumbat dan menyempit, peradangan tanpa infeksi, hingga infeksi bakteri. Bila tidak ditangani, sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi abses payudara, yaitu kantong berisi nanah yang memerlukan tindakan medis.
Gejala mastitis yang umum meliputi:
- Area payudara yang merah atau lebih gelap (pada kulit gelap kemerahan bisa kurang terlihat), bengkak, dan terasa panas
- Nyeri atau benjolan yang terasa keras dan sakit saat disentuh
- Biasanya hanya terjadi di satu sisi payudara
- Demam, menggigil, badan pegal, dan lemas seperti gejala flu
Penyebab dan Faktor Risiko
Payudara bengkak dan mastitis umumnya berkaitan dengan ketidakseimbangan antara produksi ASI dan pengeluarannya. Beberapa faktor yang dapat berperan antara lain:
- Pelekatan bayi yang kurang tepat. Bila bayi hanya mengisap puting, ASI tidak keluar dengan efektif dan puting mudah lecet.
- Jadwal menyusui yang jarang atau dibatasi. Melewatkan sesi menyusui, menunda menyusui, atau bayi tiba-tiba tidur lebih lama dapat membuat ASI menumpuk.
- Produksi ASI berlebih. Memompa terlalu sering atau terlalu lama di luar kebutuhan bayi justru dapat merangsang produksi berlebih dan meningkatkan risiko peradangan.
- Puting lecet atau luka. Luka kecil dapat menjadi jalan masuk bakteri.
- Tekanan pada payudara. Bra yang terlalu ketat, tali tas, atau posisi tidur tertentu yang menekan payudara.
- Pijatan yang terlalu kuat. Memijat payudara dengan keras dapat merusak jaringan dan memperberat peradangan.
- Kelelahan dan stres. Kurang istirahat dapat memengaruhi daya tahan tubuh ibu.
- Penyapihan atau perubahan pola menyusui yang mendadak.
Apa yang Bisa Dilakukan di Rumah?
Pada banyak kasus, langkah-langkah sederhana berikut dapat membantu meredakan keluhan. Bila gejala tidak membaik atau muncul tanda bahaya, segera periksakan diri.
1. Tetap Menyusui
Menyusui tetap aman bagi bayi, termasuk saat ibu mengalami mastitis. Susui bayi sesuai keinginannya (on demand), biasanya 8–12 kali atau lebih dalam 24 jam pada bulan-bulan awal. Mulailah dari payudara yang nyaman bila sisi yang sakit terlalu nyeri, lalu pindahkan ke sisi yang bermasalah setelah ASI mulai mengalir. Menghentikan menyusui secara tiba-tiba justru dapat memperburuk kondisi.
2. Perbaiki Pelekatan dan Posisi
Pastikan mulut bayi terbuka lebar, dagu menempel ke payudara, dan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi. Coba berbagai posisi, misalnya posisi berbaring miring atau posisi mengapit (football hold), untuk membantu ASI keluar dari berbagai bagian payudara. Bila payudara terlalu keras sehingga bayi sulit melekat, keluarkan sedikit ASI dengan tangan terlebih dahulu untuk melunakkan areola.
3. Jangan Memompa Berlebihan
Keluarkan ASI secukupnya hanya untuk membuat payudara terasa lebih nyaman, bukan hingga “kosong total”. Memompa berlebihan bisa memicu produksi ASI semakin banyak sehingga masalah berulang. Bila bayi belum bisa menyusu langsung, ikuti saran tenaga kesehatan atau konselor laktasi mengenai frekuensi memompa.
4. Kompres Dingin
Kompres dingin di antara sesi menyusui dapat membantu mengurangi bengkak dan nyeri. Gunakan kompres yang dibungkus kain, jangan tempelkan es langsung ke kulit, dan lakukan selama beberapa menit. Sebagian ibu merasa terbantu dengan kompres hangat singkat sesaat sebelum menyusui untuk membantu ASI mengalir, tetapi hindari kompres panas dalam waktu lama karena dapat memperberat bengkak.
5. Sentuhan Lembut, Bukan Pijatan Keras
Hindari memijat benjolan dengan keras. Sebagai gantinya, lakukan usapan sangat lembut di permukaan kulit dari arah payudara menuju ketiak dan tulang selangka. Teknik ini membantu aliran cairan getah bening sehingga bengkak berkurang. Bila ragu, minta diajarkan oleh bidan atau konselor laktasi.
6. Istirahat, Minum Cukup, dan Makan Bergizi
Berikan tubuh kesempatan untuk pulih. Minta bantuan pasangan atau keluarga untuk mengurus pekerjaan rumah agar ibu bisa beristirahat. Minum air putih sesuai rasa haus dan konsumsi makanan bergizi seimbang.
7. Gunakan Bra yang Nyaman
Pilih bra yang menopang dengan baik tetapi tidak menekan. Hindari bra berkawat atau pakaian yang terlalu ketat di area dada.
8. Pereda Nyeri dan Obat Lain Sesuai Anjuran
Beberapa jenis obat pereda nyeri dan antiradang tergolong aman untuk ibu menyusui, tetapi sebaiknya digunakan atas saran dokter atau apoteker. Bila dokter menilai ada infeksi bakteri, antibiotik yang aman untuk ibu menyusui mungkin diresepkan. Jika mendapatkan antibiotik, habiskan sesuai petunjuk dokter meskipun keluhan sudah membaik.
Cara Mencegah Payudara Bengkak dan Mastitis
- Mulai menyusui sedini mungkin setelah persalinan dan susui sesering yang bayi butuhkan.
- Perhatikan tanda lapar bayi, seperti membuka mulut, menoleh mencari payudara, atau mengisap tangan, tanpa menunggu bayi menangis.
- Pastikan pelekatan baik sejak awal dan segera minta bantuan bila puting terasa sangat nyeri atau lecet.
- Hindari memompa berlebihan bila bayi menyusu langsung dengan baik.
- Bila ingin menyapih, lakukan secara bertahap.
- Jaga kebersihan tangan dan rawat puting yang lecet dengan baik.
Kapan Harus ke Dokter
Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan bila mengalami tanda-tanda berikut:
- Demam tinggi atau menggigil, terutama bila disertai badan sangat lemas
- Gejala tidak membaik dalam 24 jam meski sudah melakukan perawatan di rumah, atau justru memburuk
- Kemerahan yang meluas dengan cepat atau muncul garis merah pada kulit payudara
- Benjolan keras yang tidak mengecil, terasa berisi cairan, atau sangat nyeri, yang bisa menandakan abses
- Keluar nanah atau darah dari puting
- Gejala muncul di kedua payudara sekaligus
- Tanda infeksi berat, seperti jantung berdebar cepat, napas cepat, pusing berat, atau linglung. Kondisi ini memerlukan pertolongan darurat
- Mastitis yang berulang di lokasi yang sama, karena perlu dievaluasi lebih lanjut
- Benjolan payudara yang menetap setelah peradangan mereda
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah aman tetap menyusui saat mengalami mastitis?
Ya, umumnya aman. ASI dari payudara yang mengalami mastitis tidak berbahaya bagi bayi yang sehat. Justru, tetap menyusui membantu mengeluarkan ASI dan mempercepat pemulihan. Bila ada abses atau kondisi khusus, dokter akan memberikan arahan yang sesuai.
Berapa lama payudara bengkak biasanya berlangsung?
Payudara bengkak di awal masa menyusui biasanya membaik dalam beberapa hari seiring tubuh menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi. Menyusui yang sering dan efektif membantu mempercepat proses ini. Bila bengkak tidak membaik atau disertai demam, sebaiknya periksakan diri.
Apakah benjolan di payudara saat menyusui harus dipijat sampai hilang?
Tidak dianjurkan memijat benjolan dengan keras. Pijatan kuat dapat merusak jaringan dan memperparah peradangan. Lebih baik gunakan usapan lembut di permukaan kulit, kompres dingin, dan tetap menyusui. Benjolan yang tidak hilang perlu diperiksa dokter.
Apakah mastitis bisa terjadi lagi?
Bisa, terutama bila penyebab dasarnya belum teratasi, misalnya pelekatan yang kurang tepat, produksi ASI berlebih, atau puting lecet. Bantuan konselor laktasi dan pemeriksaan dokter dapat membantu menemukan dan mengatasi penyebabnya.
Payudara bengkak dan mastitis memang dapat membuat masa menyusui terasa berat, tetapi Ibu tidak perlu menghadapinya sendirian. Bila keluhan tidak kunjung membaik, muncul demam, atau ada benjolan yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Pemeriksaan yang tepat waktu membantu Ibu mendapatkan penanganan
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.
