Dokter Kandungan Jepara - Klinik Aqilla Sehat Spesialis Kebidanan dan Kandungan Di Jepara
Kesehatan Wanita

Infeksi Vagina: Jenis, Gejala, dan Pencegahan

Infeksi Vagina

Infeksi vagina adalah peradangan pada vagina yang umumnya disebabkan oleh bakteri, jamur, atau parasit. Jenis yang paling sering ditemui adalah vaginosis bakterialis, infeksi jamur (kandidiasis), dan trikomoniasis. Gejala yang biasa muncul adalah perubahan warna, bau, atau kekentalan keputihan, rasa gatal, perih, dan tidak nyaman saat buang air kecil atau berhubungan intim. Kabar baiknya, sebagian besar infeksi vagina dapat ditangani dengan baik bila dikenali sejak awal. Banyak di antaranya juga bisa dicegah dengan kebiasaan sehari-hari yang sederhana.

Memahami Kondisi Vagina yang Sehat

Vagina memiliki sistem perlindungan alami. Di dalamnya hidup bakteri baik, terutama jenis Lactobacillus, yang menjaga suasana vagina tetap sedikit asam. Suasana asam ini menghambat pertumbuhan kuman penyebab penyakit.

Keputihan sebenarnya hal yang normal. Keputihan yang sehat biasanya bening atau putih susu, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai gatal atau nyeri. Jumlah dan kekentalannya bisa berubah sepanjang siklus haid, saat hamil, atau ketika terangsang. Infeksi terjadi ketika keseimbangan alami ini terganggu, atau ketika kuman dari luar masuk ke vagina.

Jenis-Jenis Infeksi Vagina dan Penyebabnya

1. Vaginosis Bakterialis

Vaginosis bakterialis terjadi ketika jumlah bakteri baik berkurang dan bakteri lain tumbuh berlebihan. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab tersering keputihan tidak normal pada wanita usia subur. Vaginosis bakterialis tidak digolongkan sebagai infeksi menular seksual, tetapi aktivitas seksual dapat memengaruhi risikonya.

Gejala yang khas:

  • Keputihan encer berwarna putih keabuan
  • Bau amis seperti ikan, sering lebih terasa setelah berhubungan intim atau saat haid
  • Biasanya tidak terlalu gatal, dan sebagian wanita tidak merasakan gejala sama sekali

Faktor yang meningkatkan risiko antara lain kebiasaan membilas bagian dalam vagina (douching), berganti pasangan seksual, dan memiliki pasangan seksual baru.

2. Infeksi Jamur (Kandidiasis Vagina)

Infeksi ini disebabkan oleh pertumbuhan berlebih jamur Candida. Jamur ini sebenarnya bisa hidup secara normal dalam jumlah kecil di tubuh. Masalah baru muncul ketika jumlahnya bertambah terlalu banyak.

Gejala yang khas:

  • Keputihan putih kental, bergumpal seperti ampas tahu atau susu basi
  • Umumnya tidak berbau tajam
  • Gatal hebat di vagina dan bibir kemaluan (vulva)
  • Kemerahan, bengkak, dan rasa terbakar, terutama saat buang air kecil atau berhubungan

Faktor pemicunya meliputi penggunaan antibiotik, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, daya tahan tubuh yang menurun, serta kondisi area kewanitaan yang lembap terlalu lama.

3. Trikomoniasis

Trikomoniasis disebabkan oleh parasit kecil bernama Trichomonas vaginalis dan termasuk infeksi menular seksual. Karena penularannya lewat hubungan seksual, pasangan biasanya juga perlu diperiksa dan diobati agar infeksi tidak berpindah bolak-balik.

Gejala yang khas:

  • Keputihan kuning kehijauan, kadang berbusa
  • Bau tidak sedap
  • Gatal, iritasi, dan nyeri saat buang air kecil atau berhubungan intim

Perlu diingat, banyak orang dengan trikomoniasis tidak merasakan gejala apa pun, tetapi tetap bisa menularkannya.

Infeksi Lain yang Perlu Diwaspadai

Infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore dapat menyerang leher rahim dan juga menimbulkan keputihan tidak normal. Infeksi ini sering tanpa gejala. Bila tidak diobati, infeksi dapat menjalar ke rahim dan saluran telur, lalu memicu penyakit radang panggul yang berisiko mengganggu kesuburan. Selain itu, pada wanita setelah menopause, penurunan hormon estrogen dapat membuat dinding vagina menipis dan kering. Kondisi ini menimbulkan keluhan yang mirip infeksi, padahal penyebabnya berbeda.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Gejala berbagai infeksi vagina bisa tampak mirip satu sama lain, padahal penanganannya berbeda. Itu sebabnya pemeriksaan untuk memastikan penyebab menjadi langkah penting. Dokter biasanya akan menanyakan keluhan, melakukan pemeriksaan fisik, dan bila perlu mengambil sampel cairan vagina untuk diperiksa.

Beberapa hal yang dapat Anda lakukan:

  • Hindari mengobati diri sendiri berulang kali, apalagi jika belum pernah didiagnosis sebelumnya. Obat jamur, misalnya, tidak akan membantu bila penyebabnya bakteri atau parasit.
  • Gunakan obat sesuai anjuran dokter sampai tuntas, meskipun gejala sudah mereda lebih dulu.
  • Tunda hubungan seksual selama masa pengobatan, terutama pada infeksi menular seksual.
  • Ajak pasangan untuk diperiksa bila dokter menyarankan, misalnya pada trikomoniasis, klamidia, atau gonore.
  • Jangan menggaruk area yang gatal agar tidak timbul luka dan iritasi tambahan.

Cara Mencegah Infeksi Vagina

Tidak semua infeksi bisa dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya dapat dikurangi dengan langkah berikut:

  • Jangan melakukan douching atau membilas bagian dalam vagina. Vagina dapat membersihkan dirinya sendiri, sedangkan douching justru merusak keseimbangan bakteri baik.
  • Bersihkan area luar kemaluan dengan air bersih. Bila ingin memakai sabun, pilih yang lembut tanpa pewangi dan gunakan hanya di bagian luar.
  • Basuh dari depan ke belakang setelah buang air agar kuman dari anus tidak berpindah ke vagina.
  • Pilih celana dalam berbahan katun yang menyerap keringat, dan hindari pakaian yang terlalu ketat dalam waktu lama.
  • Segera ganti pakaian yang basah, seperti pakaian renang atau pakaian berkeringat setelah olahraga.
  • Ganti pembalut atau pantyliner secara teratur, dan hindari produk yang mengandung pewangi.
  • Lakukan hubungan seksual yang aman. Setia pada pasangan dan gunakan kondom untuk menurunkan risiko infeksi menular seksual.
  • Gunakan antibiotik hanya bila diresepkan dokter.
  • Kontrol gula darah dengan baik bila Anda memiliki diabetes.
  • Jaga daya tahan tubuh dengan makan bergizi seimbang, cukup tidur, dan mengelola stres.

Kapan Harus ke Dokter

Segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami:

  • Keluhan keputihan tidak normal untuk pertama kalinya
  • Gejala infeksi saat sedang hamil, karena beberapa infeksi vagina berkaitan dengan risiko komplikasi kehamilan seperti persalinan prematur
  • Demam, menggigil, atau nyeri perut bagian bawah dan panggul
  • Keputihan bercampur darah di luar masa haid, atau perdarahan setelah berhubungan intim
  • Muncul luka, lepuhan, benjolan, atau kutil di area kemaluan
  • Keluhan tidak membaik setelah pengobatan, atau sering kambuh (misalnya beberapa kali dalam setahun)
  • Kemungkinan tertular infeksi menular seksual, misalnya karena pasangan baru atau pasangan memiliki keluhan
  • Keputihan berbau sangat menyengat, berwarna kehijauan, atau disertai nyeri hebat

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah setiap keputihan berarti infeksi?

Tidak. Keputihan adalah bagian normal dari fungsi tubuh wanita. Keputihan perlu diwaspadai bila warnanya berubah (kuning, hijau, atau abu-abu), berbau tidak sedap, bergumpal, atau disertai gatal, perih, dan nyeri.

Apakah infeksi vagina bisa menular ke pasangan?

Tergantung jenisnya. Trikomoniasis, klamidia, dan gonore menular melalui hubungan seksual, sehingga pasangan perlu diperiksa. Infeksi jamur dan vaginosis bakterialis tidak tergolong infeksi menular seksual, meskipun aktivitas seksual bisa memengaruhi kemunculannya.

Bolehkah membersihkan vagina dengan cairan antiseptik atau rebusan daun sirih?

Membilas bagian dalam vagina dengan cairan apa pun tidak dianjurkan. Kebiasaan ini dapat membunuh bakteri baik, mengubah keasaman vagina, dan justru meningkatkan risiko infeksi. Cukup bersihkan area luar dengan air bersih.

Apakah infeksi vagina berbahaya saat hamil?

Infeksi jamur cukup sering terjadi selama kehamilan dan umumnya bisa ditangani. Namun, beberapa infeksi seperti vaginosis bakterialis dan infeksi menular seksual dapat berkaitan dengan komplikasi kehamilan. Ibu hamil sebaiknya tidak menggunakan obat apa pun tanpa petunjuk dokter dan perlu segera memeriksakan keluhannya.

Infeksi vagina adalah masalah yang umum dan tidak perlu membuat Anda malu untuk mencari bantuan. Mengenali gejalanya sejak awal dan mendapatkan diagnosis yang tepat adalah kunci penanganan yang aman dan efektif. Bila Anda mengalami keputihan tidak normal, gatal, nyeri, atau keluhan lain di area kewanitaan, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Dokter dapat memeriksa penyebabnya dan menentukan penanganan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.


Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.

Butuh arahan lebih lanjut?

Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Reservasi via WhatsApp