Operasi caesar (seksio sesarea) adalah tindakan melahirkan bayi melalui sayatan di dinding perut dan rahim. Tindakan ini dilakukan bila persalinan normal berisiko bagi ibu atau bayi. Prosedurnya umumnya berlangsung sekitar satu jam. Pemulihan awal di rumah sakit biasanya memakan beberapa hari, sedangkan pemulihan menyeluruh umumnya membutuhkan sekitar enam minggu atau lebih, tergantung kondisi masing-masing ibu. Memahami prosesnya sejak awal dapat membantu Bunda merasa lebih tenang dan siap.
Apa Itu Operasi Caesar dan Mengapa Dilakukan?
Operasi caesar merupakan salah satu tindakan bedah yang paling sering dilakukan di bidang kebidanan. Organisasi kesehatan seperti WHO menegaskan bahwa operasi caesar sebaiknya dilakukan atas indikasi medis. Tujuannya adalah menyelamatkan dan melindungi kesehatan ibu maupun bayi. Ada operasi caesar yang direncanakan sejak jauh hari (elektif), ada pula yang diputuskan mendadak saat persalinan berlangsung (darurat).
Alasan Medis yang Umum
- Posisi bayi tidak ideal, misalnya sungsang (bokong atau kaki di bawah) atau melintang.
- Plasenta menutupi jalan lahir (plasenta previa), sehingga persalinan normal berisiko menimbulkan perdarahan hebat.
- Persalinan tidak mengalami kemajuan meskipun kontraksi sudah berlangsung lama, misalnya pembukaan berhenti.
- Gawat janin, yaitu tanda bahwa bayi tidak mendapat cukup oksigen selama persalinan.
- Riwayat operasi caesar atau operasi rahim sebelumnya, terutama dengan jenis sayatan tertentu.
- Kehamilan kembar dengan posisi bayi yang tidak memungkinkan persalinan normal.
- Kondisi kesehatan ibu, seperti preeklamsia berat, penyakit jantung tertentu, atau infeksi tertentu yang berisiko menular saat persalinan normal.
- Ketidaksesuaian ukuran kepala bayi dengan panggul ibu.
Keputusan akhir selalu diambil bersama dokter. Dokter akan mempertimbangkan manfaat dan risikonya sesuai kondisi Bunda dan janin.
Bagaimana Prosedur Operasi Caesar Berlangsung?
1. Persiapan Sebelum Operasi
Sebelum operasi, Bunda biasanya diminta berpuasa beberapa jam sesuai instruksi tim medis. Pemeriksaan darah dan tanda vital akan dilakukan. Bunda juga akan menandatangani persetujuan tindakan setelah mendapat penjelasan lengkap. Infus dipasang untuk memberikan cairan dan obat. Kateter urine dipasang agar kandung kemih tetap kosong selama operasi. Area perut akan dibersihkan dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi.
2. Pembiusan
Pada sebagian besar operasi caesar digunakan bius regional, yaitu bius spinal atau epidural. Bius ini membuat tubuh bagian bawah mati rasa, tetapi Bunda tetap sadar. Dengan begitu, Bunda sering kali bisa mendengar tangisan pertama bayi. Pada kondisi darurat tertentu, dokter anestesi dapat memilih bius umum sehingga Bunda tertidur selama operasi.
3. Proses Operasi
Dokter membuat sayatan di perut bagian bawah, umumnya melintang di atas garis rambut kemaluan. Setelah itu, dokter membuat sayatan pada rahim, lalu bayi dikeluarkan dengan hati-hati. Bunda mungkin merasakan tekanan atau tarikan, tetapi seharusnya tidak merasakan nyeri tajam. Setelah bayi lahir, plasenta dikeluarkan. Rahim dan lapisan perut kemudian dijahit kembali lapis demi lapis. Jika kondisi ibu dan bayi stabil, kontak kulit ke kulit dan inisiasi menyusu dini sering kali dapat dilakukan di ruang operasi atau ruang pemulihan.
Tahap Pemulihan Setelah Operasi Caesar
Beberapa Jam Pertama
Setelah operasi, Bunda akan dipantau di ruang pemulihan. Tekanan darah, nadi, perdarahan, dan kontraksi rahim akan diperiksa secara berkala. Rasa kebas di kaki akan berangsur hilang seiring berkurangnya efek bius. Tim medis akan memberikan pereda nyeri yang sesuai. Jangan ragu menyampaikan bila nyeri terasa mengganggu.
Hari Pertama hingga Pulang
Banyak rumah sakit kini menganjurkan pemulihan dini. Bunda akan didorong untuk minum, makan secara bertahap, dan mulai bergerak sesegera mungkin sesuai arahan tim medis. Bergerak lebih awal, seperti duduk lalu berjalan pelan, membantu melancarkan peredaran darah. Kebiasaan ini juga mengurangi risiko gumpalan darah dan membantu usus kembali bekerja. Kateter dan infus biasanya dilepas setelah kondisi stabil. Lama rawat inap bervariasi, umumnya beberapa hari.
Minggu-Minggu Pertama di Rumah
Pemulihan di rumah adalah fase yang paling panjang. Hal-hal yang wajar dialami antara lain:
- Nyeri dan rasa kaku di sekitar luka yang berkurang secara bertahap.
- Keluarnya darah nifas (lokia), awalnya merah segar lalu berangsur menjadi kecokelatan dan kekuningan. Darah nifas tetap keluar meskipun persalinan dilakukan lewat caesar.
- Kram perut, terutama saat menyusui, karena rahim sedang mengecil kembali.
- Mudah lelah dan perubahan suasana hati, yang sering muncul di hari-hari awal setelah melahirkan.
- Rasa kebas di sekitar bekas luka, yang bisa bertahan cukup lama.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mendukung Pemulihan?
- Rawat luka sesuai petunjuk. Jaga luka tetap bersih dan kering. Ikuti anjuran tentang cara mandi dan kapan perban boleh dilepas. Hindari menggaruk atau menekan luka.
- Tetap bergerak ringan. Berjalan santai di dalam rumah membantu pemulihan. Tingkatkan aktivitas secara perlahan.
- Hindari mengangkat beban berat yang lebih berat dari bayi Bunda selama beberapa minggu pertama, kecuali dokter menyarankan lain.
- Topang perut saat batuk, bersin, atau tertawa dengan bantal atau tangan untuk mengurangi rasa nyeri pada luka.
- Konsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya protein, sayur, buah, dan serat. Cukupi juga kebutuhan minum untuk mendukung penyembuhan luka, produksi ASI, dan mencegah sembelit.
- Cari posisi menyusui yang nyaman, misalnya posisi berbaring miring atau posisi football hold (bayi dikepit di samping tubuh), agar bayi tidak menekan luka.
- Minum obat sesuai resep dan jangan membeli obat sendiri tanpa berkonsultasi.
- Terima bantuan dari keluarga untuk pekerjaan rumah agar Bunda bisa cukup beristirahat.
- Datang ke kontrol pascapersalinan sesuai jadwal. Pada kunjungan ini dokter akan memeriksa luka, kondisi rahim, tekanan darah, dan kesehatan emosional Bunda.
- Diskusikan aktivitas tertentu, seperti menyetir, berolahraga, berhubungan intim, dan pilihan kontrasepsi, dengan dokter sebelum memulainya kembali.
Jarak kehamilan berikutnya juga perlu direncanakan agar rahim punya cukup waktu untuk pulih. Bicarakan rencana ini dengan dokter kandungan.
Kapan Harus ke Dokter
Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat bila Bunda mengalami tanda-tanda berikut:
- Demam atau menggigil.
- Luka operasi menjadi makin merah, bengkak, terasa panas, mengeluarkan nanah atau cairan berbau, atau jahitannya terbuka.
- Perdarahan dari jalan lahir yang sangat banyak, misalnya pembalut penuh dalam waktu singkat, atau keluar gumpalan darah besar.
- Darah nifas berbau busuk.
- Nyeri perut hebat yang makin memburuk, bukan membaik.
- Nyeri, bengkak, atau kemerahan pada salah satu betis.
- Sesak napas atau nyeri dada. Kondisi ini termasuk keadaan darurat.
- Sakit kepala berat, pandangan kabur, atau bengkak mendadak pada wajah dan tangan.
- Nyeri atau rasa panas saat buang air kecil, atau sulit buang air kecil.
- Payudara terasa nyeri, merah, dan panas disertai demam.
- Perasaan sedih, cemas, atau putus asa yang berlangsung lebih dari dua minggu, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah operasi caesar terasa sakit?
Selama operasi, bius membuat Bunda tidak merasakan nyeri. Bunda mungkin hanya merasakan tekanan atau tarikan. Setelah efek bius hilang, nyeri pada luka umumnya muncul. Nyeri ini dapat dikendalikan dengan pereda nyeri yang diberikan tim medis dan akan berkurang secara bertahap.
Apakah bisa menyusui setelah operasi caesar?
Bisa. Sebagian besar ibu dapat menyusui setelah operasi caesar, bahkan sejak beberapa saat setelah bayi lahir bila kondisinya memungkinkan. Obat yang diberikan tim medis umumnya telah disesuaikan untuk ibu menyusui. Posisi menyusui yang tepat akan membantu agar luka tidak tertekan.
Apakah kehamilan berikutnya harus caesar lagi?
Belum tentu. Sebagian ibu dengan riwayat caesar dapat mencoba persalinan normal pada kehamilan berikutnya, yang dikenal sebagai VBAC (vaginal birth after cesarean). Kemungkinan ini bergantung pada jenis sayatan rahim, alasan caesar sebelumnya, jarak kehamilan, dan kondisi kehamilan saat itu. Keputusan ini perlu didiskusikan dengan dokter kandungan dan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai.
Kapan boleh kembali beraktivitas normal?
Aktivitas ringan bisa dimulai sejak hari-hari awal. Aktivitas yang lebih berat, olahraga, menyetir, dan berhubungan intim umumnya baru dianjurkan setelah pemulihan cukup baik. Patokannya sering kali setelah kontrol pascapersalinan sekitar enam minggu. Waktu yang tepat bisa berbeda pada tiap ibu, jadi ikuti arahan dokter.
Setiap ibu menjalani proses persalinan dan pemulihan yang berbeda. Persiapan yang baik serta perawatan yang tepat setelah operasi akan sangat membantu kesehatan Bunda dan si kecil. Bila Bunda sedang merencanakan persalinan, memiliki riwayat operasi caesar, atau merasakan keluhan selama masa pemulihan, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Dokter dapat memberikan penjelasan dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Bunda.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan dari dokter. Bila Anda mengalami keluhan, segera konsultasikan dengan dokter kandungan. Baca juga Disclaimer Medis kami.
